Suddenly Stop Part 10: Pengumuman Diundurnya Penerimaan OSIS

Cerita Cinta Romantis Remaja "Suddenly Stop" Part 10
<< Cerita Suddenly Stop Part 9

Mading di depan kantor OSIS dikerumuni oleh siswa-siswa yang kebanyakan perempuan. Ada yang berjinjit, saling dorong, ada juga yang menggerutu karena kakinya terinjak.

“Ta, ada apaan tuh? Ikutan liat yuk.”

“Nggak usah.”

“Kenapa nggak usah?”

“Aku udah tahu itu apaan.”

“Apaan coba?”

“Nanti aja kalau udah sampai di kelas aku ceritain”

“Beneran ya?”

“Iyah, bawel.”

Pagi itu kami berangkat lebih awal dari biasanya. Bukan kerena rajin atau ada piket kelas, tapi karena ada tugas yang belum Pita selesaikan. Apalagi kalau bukan tugas Bahasa Inggris. Mata pelajaran itu saja yang baginya paling susah, yang lain, emh jangan ditanya. Empat jempol untuknya.

“Buruan mana tugasnya, Bi?”

“Nih,” kuletakkan buku di meja, “yang tadi itu apaan, Ta?” tanyaku penasaran, “yang mana?” jawabnya seolah lupa, “yang di mading tadi, nggak usah pura-pura lupa deh.” Pita tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia sibuk mencari sesuatu di tasnya. Aku tahu apa yang dia cari, “nggak bawa ballpoint lagi?” tanyaku, “heheh. Ketinggalan, Bi” .

Aku mengeluarkan ballpoint dari kotak pensil, “aku pinjemin, tapi habis ini harus langsung cerita, jangan ditunda lagi.”

“Iya, nggak sabaran banget.”

“Ayo mulai ceritanya,” pintaku.

Pita mulai bercerita sambil menyalin PR, “ yang tadi itu pengumuman seleksi OSIS.”

“Terus isinya apa?”

“Seleksinya diundur”

“Kapan?”

“Awal semester dua”

“Kok gitu?”

“Semua siswa semester satu harus mengikuti wajib pramuka selama satu semester. Nah, baru habis itu dibuka seleksi OSIS.”

“Kok gitu ya peraturannya?”

Pita menghentikan pekerjaan menyalinnya, “Duh, Bi! Kamu tanya aja langsung ke kepala sekolahnya,” jawabnya kesal.

Aku berdiri dan bersiap pergi, “oke. Aku mau ke ruang kepala sekolah.”

“Hah? Beneran?” Pita terbelalak.

“Nggak,hehe,”

“Ih, nggak lucu,” dia melanjutkan menyalin PR dan aku duduk kembali.

“Emh, kamu dapat info dari siapa, Ta?” aku lanjut bertanya.

“Dari Kak Rio,” jawabnya dengan sumringah.

“Ouh,” aku mengangguk-angguk, “eh aku mau tanya lagi boleh?”

“Tanya apa lagi?”

“Kok bisa si kamu kenal sama Kak Rio?  Bahkan nih ya, waktu itu kamu cerita kalau Kak Rio jadi runner up rangking pararel sejurusan IPA, kamu tahu dari mana? Padahal kan kita baru aja sekolah di sini, Ta,” tanyaku panjang lebar.

Pita berhenti menulis, “kamu ingat cowok yang pernah aku ceritain waktu kelas IX SMP?”

Aku mencoba mengingat, tapi gagal, “yang mana?”

“Itu loh yang mentorku di bimbel.”

“Mentor di bimbel?”

“Iya. Ingat kan?”

Kuputar memori setahun silam. Kuketik di mesin pencarian, “mentor Pita di bimbel”, hasilnya adalah, “server not found.”

“Aku lupa.”

“Pangeran Salju. Ingat kan?”

Pangeran salju, sebutan itu dulu pernah membuatku tertawa terbahak-bahak. Bagiku Pita berlebihan menamainya dengan nama itu. Tapi kali ini kucoba menahan tawa, dulu Pita sempat marah karena aku menertawai pangeran saljunya.

“Iya iya aku ingat, Ta,” jawabku dengan menahan tawa yang hampir saja tidak bisa kutahan.

“Nah, pangeran salju itu ya Kak Rio, Bi.”

“Jadi wujud pangeran salju kayak gitu, Ta?”

“Iya, makanya kamu jangan sebut dia gula pasir lagi. Dia lebih putih dari gula pasir, dia itu kayak salju”

Kuiyakan saja apa katanya. Dari pada tawaku meledak dan membuatnya marah. Pita melanjutkan menyalin PR. Satu persatu teman kelas berdatangan, suasana menjadi sedikit ramai. Kudengar mereka membicarakan tugas bahasa Inggris, maklum saja, Miss Wanda memang agak sedikit galak.

“Ta, aku ke kamar mandi dulu, ya?”

“Ngapain?”

“Refreshing.”

Aku harus melewati empat ruang kelas untuk sampai di sana. Padahal aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil. Kupercepat langkah dan tali sepatuku terlepas. Kubiarkan saja, dari pada berhenti dan mengikatnya, nanti bisa-bisa aku ngompol.

Di sebrang koridor kelas yang aku lalui, aku melihatnya, seperti lelaki korban salah sasaran di kantin tempo hari. Kupelankan langkah, memastikan bahwa itu memang dia. Dia duduk di teras sendirian, memainkan gitar. Pandanganku tersita padanya, sampai kulupa rasanya ingin buang air kecil. Yang kupandangi menoleh, mataku dan matanya bertemu. Sedikit gugup, kulemparkan pandangan ke lain arah, dan aku tersandung tali sepatu. Tubuhku terjerembab ke depan. Aku segera berdiri tanpa menoleh ke arahnya lagi. Kuharap itu bukan dia, semoga saja aku salah lihat. Kalau pun itu memang dia, semoga saja tidak mengenaliku atau bahkan sudah melupakanku.

Cerita Suddenly Stop Part 11 >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan
Gambar via jatim.metrotvnews.com

0 Response to "Suddenly Stop Part 10: Pengumuman Diundurnya Penerimaan OSIS"

Post a Comment