Suddenly Stop Part 13: Kalau Saja Aku Tidak Terjatuh

Cerita Persahabatan Remaja "Suddenly Stop" Part 13
<< Cerita Suddenly Stop Part 12

#2009

Setelah hajat ke kamar kecilku terselesaikan, aku kembali ke kelas, mengambil jalan lain, lewat belakang kantor BK untuk menghindar dari lelaki itu. Mungkin saja dia sudah tidak duduk di teras, tapi mungkin saja masih. Dari pada aku harus mempertebal mukaku untuk lewat di hadapannya, lebih baik menghindar, walaupun jaraknya lebih jauh.

Aku nyelonong masuk ke kelas tanpa menyadari Pita berdiri di depan pintu.

“Biru, baru pergi ke kamar mandi, pulangnya jadi sombong gitu ke aku?”

“Eh, kamu kemana aja, Ta?”

“Kemana aja? Kamu yang kemana aja, ke kamar mandi kok lama banget. Emang kamar mandinya udah pindah ke Sabang? Aku barusan berdiri di depan pintu, nungguin kamu.”

Aku nyengir sambil menggaruk leherku yang tidak gatal, “tadi ngantri. Lagian ngapain ditungguin segala?”.

Pita duduk dan membuka buku tugasku, membolak-baliknya, ”mau nanyain ini nih, tulisan apa si? Nggak jelas banget.” Aku mengamatinya beberapa saat, “Emhh.. apa ya? Aku juga nggak bisa bacanya, Ta,” jawabku tanpa dosa.

Pita berpindah ke tempat duduk di sebelahnya, bertanya ke teman yang lain,” Eh yang nomer 7 jawabannya apa si? Aku liat punya Biru nggak jelas banget dia tulisannya.”

Aku masih mencoba membaca tulisanku dan Pita sibuk menyalin jawaban.

“Pita, sini deh. Aku udah bisa bacanya, “i’m going to visit that new employment agency about temporary work, nah gitu Ta jawabannya.”

“Udah tahu. Kelamaan si kamu,” Pita kembali duduk di sebelahku. Tadinya aku tidak mau menceritakan kejadian menuju ke kamar mandi, tapi aku tidak bisa menahan untuk tidak menceritakannya. Pita menangkap ekspresi bimbangku, ”kenapa, Bi?”

“Tadi waktu mau ke kamar mandi, aku ketemu cowok yang waktu itu di kantin,” akhirnya aku menceritakannya.

“Terus dia bilang apa?” tanyanya antusias.

“Nggak bilang apa-apa. Dia duduk di teras kelas seberang, terus aku lewat.”

“Yaelah, itu bukan ketemu namanya, Biru,” jawabnya mlempem.

“Iya maksudku ngeliat, Ta. Ralat.”

“Terus?”

“Aku ngliatin dia, terus dia nengok. Aku gerogi, terus jatuh deh.”

“Jatuh gara-gara gerogi atau nginjek tali sepatu?”

“Dua-duanya.”

“Duh kacau banget si kamu, Bi! Harusnya pas dia nengok, kamu senyum ke dia. Atau ya paling nggak jangan jatuh deh, keliatan banget groginya,” katanya agak kecewa. Entah kenapa, aku juga merasakan hal yang sama. Kalau saja aku tidak terjatuh, mungkin kesannya akan lebih baik. Entah apa yang sekarang ada di pikiran lelaki itu tentangku. Perempuan yang suka oles-oles pasta coklat, perempuan yang jatuh di seberang, atau perempuan yang...Ah kenapa aku jadi memikirkannya. Belum tentu dia memikirkanku, atau bisa saja yang tadi kulihat bukanlah dia.

***

Ketua kelas membagikan surat edaran menjelang habisnya jam pelajaran siang itu, “isinya apa?” tanya Pita.

“Tulisan.”

“Iya tahu tulisan, tulisan tentang apa?”

Aku terdiam beberapa saat, membaca isi surat itu, ”ouh pemberitahuan pelaksanaan wajib pramuka.”

“Kapan mulainya?”

“Jum’at minggu ini.”

“Jam berapa?”

“Jam dua siang sampai setengah lima.”

“Ouh.”

“Males banget. Siang-siang jamnya tidur.”

“Iya juga si. Eh tapi ada untungnya, Bi.”

“Apa?”

“Kamu jadi bisa ketemu sama cowok itu, ya curi-curi pandang dikit lah.”

“Hishhh. Kamu aja sana. Aku mah nggak mau, ntar dikira keganjenan lagi.”

“Naksir kok gengsi,” katanya sambil menyolek daguku.

***

Ruang makan menjadi tujuan utamaku jika sudah sampai di rumah. Kuteguk segelas air putih, terasa begitu segar. Tas kuletakkan di kursi dekat dispenser. Sampai besok pagi akan tetap di sana, tidak ada yang akan memindahkan. Kecuali jika malam harinya aku mengerjakan PR, maka tasnya kubawa ke kamar. Pernah suatu kali Ayah memindahkannya tanpa memberitahu kepada orang rumah. Kemudian pagi harinya Ayah pergi bekerja lebih awal dariku. Aku kalang kabut mencari tas, akhirnya aku memakai tas Kak Raymon.

“Cuci tangan sama kaki dulu, habis itu makan,” kata Ibu.

“Iya, Bu. Lima menit lagi. Biru lagi ngilangin keringat dulu.”

“Beneran makan loh. Ibu mau jenguk temen Ibu yang sakit. Kamu jaga rumah.”

“Siap, bos.”

Jadilah aku di rumah sendirian. Mataku terasa berat, tapi perutku keroncongan. Aku bangkit menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki. Makanan di meja telah siap untuk kusantap. Baru berapa suap yang masuk ke perutku, tiba-tiba HP di saku bedering. Ada pesan dari Pita.

“Nanti jam 4 sore jalan-jalan, yuk. Ke toko alat musik. Papa mau beliin aku piano baru.”
Kubalas “Oke. Jemput ya?”

Beberapa saat kemudian, Pita membalas “Siap. Dandan yang cantik. Kali aja ketemu cowok ganteng.”

Aku tersenyum, kubalas lagi “Aku nggak mau kamu kesaing. Kamu aja yang dandan. Hehehe.”

Pita membalas “PD gila!”

Setelah itu tidak kubalas pesannya. Cacing di perut sudah menjerit meminta disuapi makanan lagi. Ngomong-ngomong alat musik, aku jadi teringat gitar yang dulu dipatahkan oleh Ayah karena aku memainkannya sampai lupa waktu. Baru saja aku bisa memainkan satu lagu, Hingga Akhir Waktu, lagu dari Nine Ball. Itu lagu pertama yang bisa kumainkan. Bukan karena ada cerita khusus darinya, semacam kisah cinta, tapi karena chordnya mudah untuk pemula. Jika ada kesempatan untuk belajar bermain gitar lagi, aku ingin memainkan lagu yang lain.

Cerita Suddenly Stop Part 14 >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan
Gambar via jatim.metrotvnews.com

0 Response to "Suddenly Stop Part 13: Kalau Saja Aku Tidak Terjatuh"

Post a Comment