Suddenly Stop Part 14: Tergeletak Lemas di Tempat Tidur

Cerita Cinta Persahabatan Remaja "Suddenly Stop" Part 14
<< Cerita Suddenly Stop Part 13

#2012

Bau minyak kayu putih menusuk hidungku. Samar kulihat cahaya dan bayangan seorang perempuan di sebelah kananku. Telingaku mulai bisa menangkap bunyi. Perlahan kubuka mata, mengedipkannya beberapa kali untuk memperjelas penglihatan. Perempuan itu tersenyum. Aku bermaksud bangkit untuk duduk, tapi kepala terasa sangat berat.

“Jangan bangun dulu. Tiduran aja sampai kamu ngerasa enakan,” katanya dengan lembut. Aku tidak bisa menjawab apa-apa, hanya mengisyaratkan dengan kedipan mata dan tersenyum simpul. Dia pergi ke pojok ruangan, mengambil segelas air putih. Kemudian membantuku untuk minum. Satu tegukan saja sudah cukup, rasanya pahit.

“Badan kamu masih panas,” katanya sambil memperbaiki posisi kompres,”kamu juga pucat banget,” lanjutnya. Aku hanya tersenyum.

“Minum obat ya?”

Aku menggeleng. Obat adalah salah satu hal di dunia ini yang kuhindari. Mencium baunya saja aku sudah mual, apa lagi meminumnya. Bisa-bisa seketika aku muntah dan merepotkan perempuan itu. 

“Makan roti mau?”

Aku menggeleng lagi.

“Ya sudah. Kamu istirahat aja. Kakak duduk di depan ruangan ini kok, nanti sesekali nengokin kamu,” ucapnya sambil merapatkan selimut ke tubuhku kemudian pergi.

Baru kali ini aku pingsan. Biasanya sepusing apapun masih bisa kutahan. Bagaimana dengan apelnya? Pasti kacau. Ah sudahlah, aku juga tidak sengaja pingsan. Kupejamkan mata, berusaha untuk tidur.

***

Sebuah belaian lembut kurasakan di rambutku. Kubuka mata dan kudapati Pita di sampingku. Dia terlihat sangat khawatir.

“Bi, maaf ya aku jadi ngebangunin kamu,” katanya lirih.

“Nggak kok, Ta,” jawabku dengan suara yang lebih lirih darinya, “kamu ngapain di sini? Belum selesai kan ospeknya?” tanyaku.

“Belum. Lagi jam istirahat. Kamu makan ya?”

“Nggak laper, Ta. Lagian lidahku pahit banget.”

“Tapi kamu harus makan, Bi. Biar ada tenaga,” bujuknya.

“Nanti aja, Ta.”

“Pulang aja ya? Istirahat di kos. Nanti aku ijin ke panitianya.”

“Aku mau pulang bareng kamu, Ta. Lagian di kos juga sama aja tiduran kaya gini kan?”

“Emhh. Beneran?”

“Iya,” aku tersenyum.

Pita melirik ke jam tangannya, “Bi, maaf banget aku harus pergi dulu. Jam istirahatnya udah hampir habis. Nanti selesai apel sore aku langsung nyamperin kamu ke sini. Kamu istirahat ya,” Pita mencium keningku kemudian pergi.

***

Selepas Pita pergi, aku tidak bisa tidur lagi. Aku berusaha untuk duduk. Perempuan itu masuk dan mendapatiku yang sedang kepayahan. Dia membantuku kemudian memeriksa keningku lagi.

“Panas kamu belum turun, makan ya? Terus minum obat.”

“Nggak usah, Kak. Udah mendingan,” aku berbohong.

“Tapi badan kamu masih panas banget.”

“Emhh. Tapi pusingnya udah berkurang kok, Kak.”

“Paling nggak ya makan roti deh. Dikit aja juga nggak apa-apa. Mau ya?”

Akhirnya kuiyakan saja tawarannya. Beberapa potong roti kumakan dengan terpaksa sambil menahan mual, ”udah, Kak.” Perempuan itu menghentikan menyuapiku kemudian mengambilkan segelas air putih.

“Sering pingsan?” tanyanya.

“Baru kali ini,” jawabku setelah meneguk air.

“Ouh. Kakak tinggal lagi ya. Ada obat yang harus dianter ke ruang sebelah.”

Aku mengangguk. Dia meletakkan gelas di meja dekat tempat tidurku kemudian berlalu. Aku tidak sendirian di ruang ini. Ada dua orang di tempat tidur sebelah kiriku. Mereka teridur pulas. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Bosan, ingin kembali ke kelas tapi masih pusing dan sekujur tubuh terasa dingin. Kutarik selimut dan kurapatkan kaki ke perut. Kutenggelamkan kepala diantara kedua lutut. Perutku terasa mual, roti yang tadi kumakan sepertinya ingin keluar lagi. Kupejamkan mata, ”tahan, tahan, tahan!” kataku dalam hati.

Kututup mulut dengan kedua tangan, berusaha menahannya sampai mataku berair. Tapi sia-sia saja yang kulakukan. Mual itu semakin menjadi-jadi. Kuarahkan tubuh ke sebelah kanan tempat tidur, dan isi perutku keluar. Sedikit lega, tapi tidak lagi ketika kulihat kotoran itu mengenai tubuh seseorang. Sungguh, aku tidak tahu kapan orang itu datang dan siapa dia.

“Mendingan periksa ke bidan. Kali aja kamu hamil lagi,” katanya. Mendengar kalimat itu, aku sudah tahu siapa dia tanpa kulihat wajahnya. Aku  masih menunduk. Lelaki itu mengambil kain pel dan membersihkan lantai, tanpa merasa jijik. Dia memberikan sapu tangan kepadaku, “bersihin sendiri mulut kamu,” katanya kemudian pergi.

Cerita Suddenly Stop Part 15 >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan
Gambar via jatim.metrotvnews.com

0 Response to "Suddenly Stop Part 14: Tergeletak Lemas di Tempat Tidur"

Post a Comment