Suddenly Stop Part 15: Bertemu Lagi, di Toko Alat Musik

Cerita Cinta Persahabatan Remaja "Suddenly Stop" Part 15
<< Cerita Suddenly Stop Part 14

#2009

Sebentar lagi jarum jam meunjukkan pukul empat sore. Tapi Ibu belum pulang dari menjenguk temannya. Sementara itu, Pita baru saja menelfon sedang dalam perjalanan ke rumahku. Tidak mungkin aku meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, apa lagi tadi siang Ibu berpesan agar aku menjaga rumah.

Aku duduk di teras dengan gelisah sambil memainkan daun pohon jambu biji yang rantingnya menjorok ke teras. Sebuah mobil berhenti di depan rumah, itu mobil Pita. Dia turun bersama seorang wanita yang ternyata adalah Ibuku. Mereka tersenyum.

“Kok Ibu bisa bareng sama Pita?” tanyaku heran.

“Iya tadi jenguk temennya bareng sama Mamanya Pita,” jawab Ibu.

“Ouh gitu. Terus Mama kamu mana, Ta? Nggak ikut ke sini?”
“Ada acara lagi katanya,” jawab Pita.

“Ouh gitu.”

“Ayo Pita, masuk dulu.” Ibuku mempersilahkannya.

“Emhh..makasih Tante. Pita sama Biru mau langsung pergi ke toko alat musik. Boleh kan pinjam Birunya? Boleh ya tante?” Pita berlagak manja kepada Ibuku.

Ibuku tersenyum dan mencubit pipinya, “ya pasti boleh dong.”

“Makasih Tante.”

“Iya sama-sama.”

Aku dan Pita menyalami Ibu kemudian pergi.

“Ke toko alat musik Liz ya, Pak Sadir,” kata Pita kepada supirnya. Pak Sadir mengangguk.

“Eh, Bi. Seingat aku, dulu waktu SMP kamu sempet bisa main gitar kan?” Pita membuka percakapan.

“Iya. Kenapa?”

“Masih tertarik nggak sama gitar?”

“Masih sih, tapi takut dimarahin lagi sama Ayah.”

“Ya lagian kamu mainnya nggak ingat waktu sih.”

“Ingat kok. Waktu adalah uang.”

“Ih. Nggak lucu.”

“Ya aku emang nggak lagi ngelawak.”

***

Kami sampai di depan toko alat musik Liz. Dari luar tampak bermacam alat musik dipajang di sana. Tapi dari sekian banyak, pandanganku hanya tersita pada gitar. Pita menarikku masuk, sepertinya dia sudah tidak sabar membeli piano. Seorang pelayan toko menghampiri kami.

“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya sambil melempar senyum.

“Mau beli piano,” jawab Pita.

“Silahkan ikut saya ke sebelah sana,” pelayan itu menunjuk ke suatu arah. Pita masih menggandeng tanganku. “Yuk, Bi!” ajaknya.

“Eh, Ta. Kayaknya aku mau liat-liat gitar aja deh. Gimana?”

“Emh. Oke, nggak apa-apa,” Pita pergi membuntuti pelayan itu.

Kuambil satu pasta coklat di tas kecil yang kupakai, kemudian menikmatinya. Kulayangkan pandanganku ke semua gitar yang terpajang. Kuperhatikan satu persatu, sesekali kupegang dengan hati-hati. Mengamati setiap detailnya. “Ini pasti gitar berkualitas, tidak seperti punyaku dulu,” gumamku.

“Gitar akustik yang kemarin aku naksir udah kebeli belum?” tanya seorang lelaki kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dariku.”Belum bro. Masih terpajang cantik tuh di sebelah sana,” jawab pelayan itu. Aku menoleh ke arah mereka. Yang kulihat hanya punggung pelayan, karena wajah pembeli itu terhalang olehnya. Aku kembali sibuk mengagumi gitar-gitar di depanku. Ada satu yang benar-benar membuatku jatuh cinta, dan aku berhenti di depannya.

“Biru?” aku menoleh ke arah suara itu. Seketika semuanya terasa begitu lambat, kecuali detak jantungku, semakin cepat dan semakin cepat. Aku ingin berbalik badan dan pura-pura tidak melihatnya. Tapi lelaki itu bertanya lagi, ”Biru?”. Aih, dia masih mengingat namaku setelah kejadian salah sasaran di kantin?

“Iya, kamu kok ingat namaku?” tanyaku gugup.

“Ingat nama kamu?” dia balik bertanya.

“Iya, barusan kamu panggil namaku, BI-RU.”

“Ouh yang barusan, maksudku gitar yang lagi kamu liatin itu yang warna biru?”

Aku menoleh ke gitar yang dimaksud. “Oh iya, warnanya biru.” Kataku dalam hati. Aku benar-benar merasa malu, bagaimana bisa aku mengira biru yang dia maksud adalah aku. Bodoh! Kenapa setiap kali bertemu dengan lelaki itu aku selalu mempermalukan diriku sendiri.

“Kamu mau membelinya?” tanyanya lagi.

“Nggak. Liat-liat aja.” Jawabku masih dengan sisa rasa malu.

“Ouh. Aku mau beli yang itu.”

“Silahkan.” Jawabku singkat kemudian menyingkir dari hadapannya. Bukannya menghampiri Pita di tempat piano, aku malah keluar dari toko. Kejadian tadi membuatku lupa dimana dia. Terlanjur keluar, akhirnya aku duduk di sebuah bangku di depan toko. Lelaki itu keluar dengan membawa gitar di punggungnya, disusul dengan Pita dibelakangnya.

Pita mengampiriku. “Bi, itu cowok yang di kantin kan?” tanyanya dengan suara yang sengaja dikeraskan.

“Ssttt,” aku bangkit dan menutup mulutnya, ”mendingan sekarang kita masuk ke mobil,” bisikku.

Mata Pita melirik ke arah lelaki itu. Dia berusaha mengatakan sesuatu, dengan sekuat tenaga aku memaksanya masuk ke mobil. Sedikit kejam memang, tapi dari pada dia berkata yang tidak-tidak dan membuatku bertambah malu, terpaksa aku melakukan ini padanya.

“Duh! Tadi tuh kesempatan buat kenalan, Bi.” Katanya setelah terbebas dari jeratanku.  Dia membuka kaca mobil dan menengok ke area parkir sepeda motor, “tuh liat. Dia pergi kan.”

“Pergi ya biarin.”

“Nyesel kan kamu tadi nggak kenalan?”

“Iya nyesel. Nyesel banget, kenapa tadi harus ketemu dia.”

“Kok gitu?”

“Tiga kali, Ta, tiga kali.”

“Tiga kali berapa, Bi?”

“Tiga kali satu sama dengan tiga.”

“Ih kok malah beajar matematika.”

“Nih dengerin. Tiga kali aku ketemu dia, dan semuanya kacau. Aku bikin malu diriku sendiri, Ta. Pertama di kantin salah sasaran, kedua aku jatuh di depan dia, dan barusan ketiga, di toko lebih parah lagi dari yang sebelumnya.”

“Berarti tadi kamu udah ketemu dia di dalam toko?”

Aku mengangguk.

“Terus gimana?”

Aku menceritakan kejadian di dalam toko tadi. Pita terkekeh sampai mukanya merah dan matanya berair. Hingga sampai di rumah, dia masih saja membahas kejadian itu. Bahkan dia bercerita kepada Kak Raymon dan memperagakannya. Kak Raymon menurut saja berperan sebagai lelaki itu. Kubiarkan saja, biar dia puas.

Cerita Suddenly Stop Part 16 >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan
Gambar via jatim.metrotvnews.com

0 Response to "Suddenly Stop Part 15: Bertemu Lagi, di Toko Alat Musik"

Post a Comment