Suddenly Stop Part 16; Dari Ruang P3K Menuju Pintu Kemana Saja

Cerita Cinta Persahabatan Romantis Remaja "Suddenly Stop" Part 16
<< Cerita Suddenly Stop Part 15

#2012

Lelaki itu sangat menyebalkan. Dia mengataiku hamil lagi. Kalau saja aku sedang tidak sakit, sudah kumaki dia habis-habisan. Tapi, dia baik juga, tidak marah ketika pakaian dan sepatunya terkena muntahanku, malah dia membersihkannya dan meminjamkan sapu tangan. Emh, mungkin dia hanya kasian melihat seonggok perempuan yang dikiranya hamil sedang terkapar di ruang P3K.

Aku kembali berbaring di tempat tidur. Perutku sudah terasa baikan, tapi kepalaku masih pusing dan badanku menggigil. Aku ingin berada di rumah, ditemani oleh Ibu di saat-saat seperti ini. Ibu pasti akan membuatkanku wedang jahe, yang setelah meminumnya badanku akan terasa hangat.

Kalau pintu kemana saja milik Doraemon itu nyata. Pasti sudah kupinjam untuk pulang ke rumah, dan seketika aku sudah berada di tempat tidurku yang bernuansa biru. Sangat nyaman dan menenangkan. Atau kupinjam saja mesin waktu miliknya, kembali ke awal dimana aku membeli dot bayi. Aku akan pergi ke toko yang berbeda, bukan di toko itu dan bertemu dengan lelaki menyebalkan. Aku mendapatkan dot bayi yang kucari, atribut ospekku lengkap, tidak mendapatkan hukuman, tidak harus menjadi pemimpin apel, dan tidak pingsan kemudian terkapar di ruangan ini.

***

Khayalanku tentang pintu kemana saja dan mesin waktu membuatku tertidur. Aku terbangun mendengar sayup-sayup suara di luar. Kulihat jam dinding di dekat pintu. Sudah jam pulang, pantas saja ramai. Mereka pasti baru saja selesai apel sore. Aku bangun kemudian duduk di tempat tidur. Dua orang yang tidur di sebelah kiriku sudah tidak ada di tempat. Mungkin mereka sudah ke kelas ketika aku tidur.

Perempuan itu masuk membawa kotak obat. Dia menghampiriku.

“Ada yang nganter pulang nggak?”

“Ada, Kak.”

“Kalau nggak ada nanti dianter pulang sama panitianya.”

“Ada kok, Kak. Sebentar lagi orangnya ke sini.”

“Ouh. Gimana? Udah mendingan kan?”

“Lumayan.”

Perempuan itu merapihkan tempat tidur. Kemudian keluar membuang sampah obat-obatan. Cukup lama, sampai kuputuskan untuk turun dari tempat tidur dan kembali ke kelas mengambil tas. Baru saja aku menyibakkan selimut, Pita datang dengan terengah-engah.

“Bi, maaf. Lama nunggu ya?”

Aku hanya tersenyum.

“Tadi aku nyari kelas kamu tapi nggak ketemu, Bi,” dia menghentikan ceritanya dan mengatur nafas, kemudian melanjutkannya lagi, ”jadi aku putusin buat ke sini dulu, niatnya mau nanya kelas kamu dimana. Eh kebetulan ketemu sama teman kelas kamu di depan, dia udah bawain tas kamu.”

“Temanku? Siapa si? Melin ya?”

“Nggak nanya siapa namanya.”

“Kok dia nggak ikut masuk?”

“Mau ke kamar mandi dulu katanya.”

“Tasku juga dibawa ke kamar mandi?”

“Iya, Bi. Kenapa tadi nggak aku minta aja tasnya ya? Jadi kita bisa langsung pulang.”

“Ya udah nggak apa-apa, Ta. Paling dia juga sebentar ke kamar mandinya.”

Tidak lama setelah itu, Langit datang.

“Nah, tuh dia, Bi. Dia namanya Melin?”

“Ya bukanlah.”

“Hehe. Siapa tau aja nama lengkapnya Melindiarto.”

Langit menghampiri aku dan Pita. Dia meletakkan tasku di meja dekat tempat tidur.

“Makasih, ya.” Ucapku kepadanya. Dia hanya tersenyum.

“Eh bisa bantu mapah Biru nggak? Sampe ke depan kampus aja,” tanya Pita kepadanya.

“Nggak usah. Dia kayaknya buru-buru deh, Ta.”

Pita melirik ke Langit, “kamu buru-buru?” tanyanya. Langit menggeleng.

“Bagus. Sekarang bantu aku mapah Biru ya. Dia itu lagi lemah banget kondisinya. Liat tuh mukanya pucat kaya mayat hidup.”

“Lemah banget? Segitunya ya?” Tanyaku dalam hati. Aku turun dari tempat tidur dibantu oleh mereka. Terlihat begitu berlebihan, sakit pusing saja sampai dipapah dua orang. Pita memang kadang suka mendramatisir sesuatu.

Sapu tangan milik lelaki itu terjatuh, “Sapu tangan kamu jatuh tuh, Bi. Aku ambilin ya.” Belum sempat aku melarangnya, dia sudah memungutnya dan memasukkannya ke tas ku. Padahal aku tidak berniat sama sekali untuk membawanya, apa lagi menyimpannya.

***

Kami sudah melewati beberapa kelas untuk menuju ke depan kampus. Aku meminta berhenti sejenak. Bukan karena sudah tidak kuat berjalan, tapi karena aku merasa tidak nyaman dipapah oleh dua orang. Terlihat seperti pesakitan yang tidak berdaya berjalan sendiri.

“Ta, mending Langit suruh bawa tas aja.”

“Kenapa emang?”

“Aku bisa kok cuma dipapah sama kamu.”

Langit melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya. Pita memberikan tasku kepadanya. “Jalan dulu aja. Aku dibelakang kalian.” katanya.

Aku dan Pita berjalan di depannya. Mendengar ucapannya tadi, aku seperti terbawa ke masa lalu. Aku menoleh ke belakang, memandanginya. Dia menyadarinya dan balik memandangku. Aku tersenyum, dia juga tersenyum untuk pertama kalinya semenjak aku bertemu dengannya. Dia mengingatkanku kepada seseorang. Sungguh.

Cerita Suddenly Stop Part 17 >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan
Gambar via jatim.metrotvnews.com

0 Response to "Suddenly Stop Part 16; Dari Ruang P3K Menuju Pintu Kemana Saja"

Post a Comment