Suddenly Stop Part 17; Sebuah Lukisan Laki-Laki Sedang Bermain Gitar

Cerita Cinta Persahabatan Remaja Romantis "Suddenly Stop" Part 17
<< Cerita Suddenly Stop Part 16

#2009

“Cukup sudah. Aku tidak mau terlihat bodoh dan mempermalukan diriku di depan lelaki itu. Lebih baik aku melupakan semuanya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Iya, lupakan. Dia hanya orang yang numpang lewat saja di hidupku. Kejadian salah sasaran di kantin hanya agar aku tidak terlalu meyakini sebuah tebakan, jatuhnya aku di depannya hanya agar aku lebih berhati-hati ketika berjalan, dan kejadian di toko alat musik hanya agar aku tidak over confident,”

aku berbicara sendiri di depan cermin. Kemudian merebahkan badanku di tempat tidur, menutup wajahku dengan kertas hasil ulangan. “Ah, sial! Lelaki itu terus saja ada dipikiranku, meskipun aku coba mengusirnya,” gerutuku dalam hati.

Pintu kamarku diketuk oleh seseorang. ”Masuk aja.”

“Hey, pemalas! Belajar, bukannya malah main ciluk baa pake kertas begitu,” kata Kak Ray sambil menarik kertas di mukaku.

“Nggak ada PR,” jawabku santai.

“Emang belajar kalau ada PR aja? Zamannya kakak sekolah dulu...” dia mulai berkisah dan aku malas mendengarkan, aku sudah hafal isi kisahnya.

“Iya iya. Udah tahu. Ada kisah lain nggak, Kak? Semacam kisah anak yang malas belajar terus dia bertemu dengan seorang peri baik hati yang mengubahnya menjadi orang sukses.”

“Ada.”

“Gimana coba?”

“Ya nggak ada lah. Itu Cuma ada di pikiran kamu yang kekanak-kanakan itu, Biru. Kalau kamu pengin sukses ya harus berusaha. Salah satunya dengan belajar.”

“Iya, Biru paham kok maksudnya Kak Ray. Cuma mau membandingkan prestasi Kakak sama aku kan?”

“Ya nggak gitu juga. Kamu sensitif banget si? Lagi PMS?”

“Nggak. Lagi PMR.”

“Palang Merah Remaja?”

“Bukan.”

“Terus apa?”

“Pusing Mikirin Remidial.”

“Sejak kapan diganti?”

“Sejak Kakak masuk ke kamarku, udah keluar sana!” aku mengusirnya dengan melemparkan bantal tepat ke mukanya.

“Oke. Oke. Kakak keluar. Tadinya si ke sini mau ngajakin jalan, mumpung habis gajian. Tapi yang mau diajakin malah marah-marah. Nggak jadi deh.”

“Tadi kan Kakak nyuruh aku buat belajar, bukan ngajak jalan!”

“Ya basa-basi dulu.”

“Ihh. Biru ikut!”

“Ke mana?”

“Katanya mau jalan?”

“Nggak jadi,” katanya kemudian meninggalkan kamarku. Aku segera turun dari tempat tidur dan menyusulnya.

“Buru-buru amat, Bi?” tanya Ayah.

“Iya, kok buru-buru amat?” Ibu menambahi

“Iya, Yah, Bu. Biru mau jalan sama Kak Ray,” jawabku kemudian menyalami mereka.

“Hati-hati,” Ibu berpesan.

“Siap!”

“Jadi ikut nggak nih?” teriak Kak Ray dari depan rumah.

“Jadi. Tungguin Kak!” aku buru-buru menghampiri Kak Ray yang sudah bersiap di motornya. Kami pergi ke taman kota. Kebetulan sedang digelar festival seni selama sepekan. Sebenarnya aku dan Kak Ray bukan maniak hal-hal yang berbau seni, tapi sekedar untuk cuci mata, boleh juga.

***

Aku tertarik melihat pameran lukisan di salah satu sisi taman. Kalau mataku tidak salah melihat, ada sebuah lukisan lelaki bermain gitar dipajang di sana.

“Kak, ke sebalah sana, yuk!”

“Liat lukisan?”

“Iya, yuk!”

“Tapi jangan lama-lama ya, di sebelah sana juga ada yang keren.” Kata Kak Ray sambil menunjuk ke arah lain.

“Iya, iya, Cuma sebentar.”

Ternyata penglihatanku benar. Itu adalah sebuah lukisan lelaki bermain gitar. Mata lelaki di lukisan itu seperti berbicara tentang sesuatu, semacam rahasia. Tapi itu pendapatku, tentu saja pendapat yang asal-asalan, karena aku bukan seorang pengamat seni.

Aku beralih melihat-lihat lukisan lain. Setelah kurasa cukup, aku menghampiri Kak Ray yang masih berdiri di depan lukisan lelaki bermain gitar.

“Ke sebelah sana, yuk! Katanya ada yang keren?”

Kak Ray menghentikan obrolan dengan seseorang di dekatnya. Dan, ternyata dia adalah lelaki itu. Aku menarik tangan Kak Ray tanpa basa-basi.

“Interpretasi kamu tentang lukisan itu keren. Beneran deh,” teriak Kak Ray kepadanya.

***

Jam pertama di hari ini adalah mata pelajaran olahraga, dan sepulang dari festival kesenian semalam, aku tidak bisa tidur. Pikiranku kembali dihinggapi oleh lelaki itu. Hasilnya adalah aku bangun kesiangan dan hampir terlambat ke sekolah. Aku bahkan tidak sempat menaruh tasku di kelas, terpaksa aku membawanya ke lapangan. Aku mengantuk di sela-sela penjelasan Pak Dodi tentang teknik service dalam permainan volly.

Pita mencubit tanganku, “Sakit, Ta!” protesku.

“Habis ngapain si kamu semalem? Sempet-sempetnya ngantuk di lapangan?”

“Insomnia.”

“Sekarang semuanya praktek service. Kloter pertama nomer absen satu sampai lima.” Suara Pak Dodi memotong pembicaraan kami.

“Siap-siap sana. kamu kan absen ke lima, Bi.”

“Aku nggak bisa service, Ta.”

“Coba aja dulu.”

Aku berjalan ke pojok kanan lapangan volly, menunggu giliran. Tiba-tiba saja sebuah bola mengenai kepalaku. Aku terjerembab ke depan. Kepalaku pusing dan keningku mengenai sebuah batu. Seketika aku dikerumuni banyak orang. Pita adalah yang paling heboh diantara mereka.

“Ya ampun Biru! Kamu nggak apa-apa? Nggak pusing kan? Kening kamu nggak sakit kan?” tanyanya sambil mengamati wajahku.

Sebuah bola baru saja menghantam kepalaku sampai aku terjerembab dan keningku terkena batu hingga berdarah, bagaimana dia bertanya bahwa aku tidak apa-apa?

“Menurut kamu?” aku balik bertanya kepadanya. Dia malah nyengir kuda.

“Pita, kamu antar Biru ke UKS,” ujar Pak Dodi.   

Pita membantuku untuk berdiri.

“Maaf, tadi aku yang nendang bola,” seseorang tiba-tiba muncul di tengah kerumunan. Aku harus bilang apa? Dia lagi dia lagi, lelaki itu.

“Ouh jadi kamu yang nendang bolanya sampe kena kepalanya Biru?” tanya Pita dengan sedikit geram.

“Iya, aku beneran minta maaf. Nggak sengaja,” ujarnya dengan raut wajah merasa bersalah.

“Sekarang kamu bantu bawa Biru ke UKS!” perintah Pita kepadanya. Lelaki itu mengangguk.

“Eh, kamu bawain tasku aja. Itu tuh yang di bawah pohon. Biar Pita yang bantu aku jalan.” Kataku kepadanya. Sebenarnya aku tidak keberatan jika dia juga membantuku berjalan. Hanya saja aku takut salah tingkah dan mempermalukan diriku lagi. Lagi pula lukaku tidak parah.

“Jalan dulu aja. Aku di belakang kalian.” Katanya.

Aku dan Pita berjalan di depannya. Seperti ada dorongan yang terus mendesakku untuk menoleh ke belakang. Aku mencoba melawannya, tapi gagal. Akhirnya aku menoleh. Dia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dagu, “Sorry,” katanya lirih. Aku tersenyum, dan dia juga tersenyum. Hari itu, pertama kalinya dia tersenyum kepadaku. Manis.

Cerita Suddenly Stop Part 18 >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan
Gambar via jatim.metrotvnews.com

0 Response to "Suddenly Stop Part 17; Sebuah Lukisan Laki-Laki Sedang Bermain Gitar"

Post a Comment