Suddenly Stop Part 8: Kuliah di Kampus yang Sama

Cerita Persahabatan "Suddenly Stop" Part 8
<< Cerita Suddenly Stop Part 7

“So, what bring you here?” tanyaku.

“So what what,” ledeknya.

“I am seriuos, Miss Pita Almira,” kataku sambil membulatkan mata.

“Udah, jangan dibulat-bulatin gitu, Bi. Tetap aja mata kamu tuh sempit.”

“Ya makanya sekarang kamu jelasin,” kataku dengan nada manja.

“Aku jelasin, tapi kita harus makan dulu. Aku bawa makan buat kita berdua. Jreng-jreng, rendang spesial,” dia membuka box makannya, “kamu pasti laper kan habis ospek seharian?” Pita mengeluarkan box makanan dari tasnya.

“Iya juga sih. Tapi beneran ya, habis makan langsung kamu cerita.”

“Oke, Miss Biru Rudea.”

Aku dan Pita seperti orang belum pernah makan daging saja. Sesekali kami berebut, kemudian melepas tawa. Seusai makan, Pita tidak langsung menjelaskan kenapa dia ada di kamarku. Dia justru membicarakan barang bawaan untuk ospek besok.

“Bi, atributnya masih sama kayak tadi kan? Barang bawaannya aja yang beda?” tanyanya.

“Iya, Ta. Kok jadi ngomongin itu? Itu nanti aja, kalau kamu udah selesai cerita, baru aku beli.”

“Nggak usah beli, aku udah beliin buat kamu.”

“Hah?”

“Aku udah beliin buat kamu,” ulangnya.” Nih liat deh,” dia menyodorkan sebuah kantung plastik ukuran besar, “kamu cek dulu aja, barangkali ada yang kurang, nanti aku temenin beli,” lanjutnya.

Kukeluarkan seisi kantong, dan mengeceknya dengan catatanku. Semua telah kuberi tanda centang, “Ta, ini nggak kurang, tapi kelebihan. Kenapa semuanya sepasang?”

“Ya kali aku beliin buat kamu tapi buat aku nggak. Nanti aku kena hukuman dong.”

“Maksud kamu?”

Pita tersenyum mencurigakan. Membuatku bingung, dan semakin penasaran. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Kemudian terlihat akan mengatakan sesuatu, hampir mengatakanya dan dia tertawa.

“Please, jangan pasang muka bingung, Bi. Sumpah kamu jelek banget,” dia melanjutkan tawanya.

“Puas bikin aku bingung nih?”

“Oke, oke. Kali ini beneran. Dengerin baik-baik. Aku kuliah di kampus yang sama kayak kamu,” dia mengucapkannya dengan sangat jelas.

“Seriuosly?” aku terbelalak.

“Yes. I’am sure.”

Aku melompat-lompat kegirangan, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah kenaikan kelas dari orang tuanya, “sumpah aku nggak tahu mau ngomong apa, Ta. Ini beneran surprize. Aku seneng banget, nggak nyangka. Selamat datang Pita, selamat datang Pita, selamat datang, selamat datang, selamat datang Pita,” aku bernyanyi dengan nada lagu Happy Birthday.

Pita berdiri dan berusaha mengkondisikanku, “Iya iya udah, Bi. Duduk yang tenang yah.”

“Aku seneng banget, Ta.”

“Iya iya, apalagi aku. Kamu kan habis makan, jangan lompat-lompat gitu deh. Nanti sakit perut loh.”

“Oh iya. Sampe lupa diri, hehe.” “Kok bisa kamu kuliah di sini? Papah sama Mamah kamu di Lampung kan, Ta?” Tanyaku setelah tawa mereda.

“Aku bilang ke mereka, aku nggak mau tinggal di Lampung, maunya di sini aja, kuliah di kampus yang sama kayak kamu,” jelasnya.

“Terus mereka marah nggak, Ta?”

“Nggak kok. Lagian di sini juga ada Paman sama Bibiku. Jadi, mereka nggak khawatir.”

“Syukurlah. Eh berarti kamu tinggal di rumah mereka?”

“Nggak dong, aku tinggal di sini, di kamar sebelah kamu.”

“Keren,” aku manggut-manggut. “Eh terus kenapa kamu nggak kasih tahu aku kalau kamu nggak jadi tinggal di Lampung?” kulanjutkan interogasiku.

“Aku mau bikin kejutan buat kamu. Aku sekongkol sama Kak Raymon. Dia yang booking kamar buat aku, biar bisa sebelahan sama kamu, keren kan?”

“Keren. Serius keren banget. Tapi tetap aja aku kesel. Kamu nggak cerita dari awal.”

“Namanya juga kejutan, Ta. Gini aja, karena aku udah bikin kamu kesel, kamu bakalan aku kenalin ke sepupuku. Kali aja kamu bisa move on dari....”

“udah, udah, jangan bahas dia lagi.” kupotong perkataannya, malas membahasa tentang dia.

Cerita Suddenly Stop Part 9 >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan
Gambar via jatim.metrotvnews.com

0 Response to "Suddenly Stop Part 8: Kuliah di Kampus yang Sama"

Post a Comment