Biaya Produksi Dalam Islam

Biaya Produksi Dalam Islam - Dalam ekonomi Islam, biaya produksi tidak jauh berbeda dari biaya produksi secara umum. Adiwarman Karim dalam buku berjudul: Ekonomi Mikro Islami, menyebutkan bahwa komponen biaya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu biaya tetap (fixed cost, FC), biaya variabel (variable cost, VC), dan biaya keseluruhan (total cost, TC).   Fixed cost besarnya tidak dipengaruhi oleh berapa banyak output atau produk yang dihasilkan. Salah satu contoh dari biaya tetap ini adalah biaya bunga yang harus dibayar oleh produsen. Besarnya beban bunga yang harus dibayar tergantung pada berapa banyak kredit yang diterima produsen, bukan tergantung pada berapa output yang dihasilkannya. Sedangkan biaya variabel (variable cost) besarnya ditentukan langsung oleh berapa banyak output yang dihasilkan. Misal untuk satu kilogram beras yang dihasilkan diperlukan biaya Rp 1000,-. Berarti untuk memproduksi dua kilogram beras, biasanya Rp 2.000,-, dan seterusnya.
Dalam 
Biaya Produksi Dalam Islam

Menurut Eko Suprayitno dalam bukunya yang berjudul Ekonomi Islam menyatakan bahwa ciri-ciri ekonomi Islam adalah:

1. Pemilikan

Oleh karena manusia itu berfungsi untuk mengelola alam ini guna kepentingan umat manusia, maka ia berkewajiban mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya alam. Dalam menjalankan tugasnya, lambat laun ia akan membentuk kekayaan yang menjadi miliknya. Miliknya ini digunakan untuk bekerja guna memenuhi kebutuhannya dan keuarganya, dan sebagian lagi untuk kepentingan masyarakat. 

Pemilikan ini, meskipun relative, membawa kewajiban yang harus dipenuhi manakala sudah sampai batas tertentu untuk membayar zakatnya.

2. Produk barang dan jasa harus halal

Produk barang dan jasa haruslah halal, baik cara memperoleh input, pengolahannya dan outputnya harus dapat dibuktikan halal. Hendaklah kita tidak begitu saja percaya terhadap label yang mengatakan ditanggung halal. Tidaklah dapat dibenarkan bahwa hasil usaha yang haram dipergunakan untuk membiayai yang halal.

3. Keseimbangan

Allah tidak menghendaki seseorang menghabiskan tenaga dan waktunya untuk beribadah dalam arti sempit akan tetapi juga harus mengusahakan kehidupannya di dunia. Dalam mengusahakan kehidupan didunia ia tidak boleh boros, akan tetapi juga tidak boleh kikir. Janganlah seseorang terlalu senang terhadap harta bendanya, tetapi juga harus selalu sedih manakala ia kekurangan rizki.

4. Upah tenaga kerja, keuntungan dan bunga

Upah tenaga kerja diupayakan agar sesuai dengan prestasi dan kebutuhan hidupnya. Ini mengakibatkan keuntungan menjadi kecil yang diterima oleh pemilik saham yang pada umumnya berkehidupan lebih baik dari mereka. Akibatnya daya beli orang-orang kecil ini bertambah besar, dan perusahaan lebih lancar usahanya.  

Nabi SAW juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat si pekerja kering. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi SAW bersabda:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).  

Maksud hadits diatas adalah bersegeralah menunaikan hak si pekerja setelah selesainya pekerjaan, begitu juga bisa dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian gaji setiap bulan.

5. Setiap pengeluaran harus dicatat dengan cermat dan teliti 



Dalam proses administrasi dan perjanjian-perjanjian bisnis, harus dilakukan dengan ketelitian dan kecermatan karena aktifitas bisnis tidak hanya dilakukan sesama manusia tetapi juga dilakukan antara manusia dengan Allah.

0 Response to "Biaya Produksi Dalam Islam"

Post a Comment