Dasar dan Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Islam

Dasar dan Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Islam - Karakter identik dengan akhlak.  Dalam perspektif Islam, karakter atau akhlak mulia merupakan buah yang dihasilkan dari proses penerapan syariah (ibadah dan muamalah) yang dilandasi oleh fondasi aqidah yang  kokoh. Ibarat bangunan, karakter atau akhlak  merupakan  kesempurnaan  dari bangunan  tersebut  setelah fondasi  dan bangunannya  kuat.  Tidak  mungkin karakter atau akhlak mulia akan terwujud pada diri seseorang apabila ia tidak memiliki aqidah dan syariah yang benar. Seorang Muslim yang memiliki aqidah atau iman yang benar pasti akan terwujud pada sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang didasari oleh imannya.
Dasar dan Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Islam

Dalam pendidikan karakter yang terpenting bukan hanya sebatas mengkaji  dan  mendalami konsep akhlak, tetapi sarana dan proses untuk mencapainya juga sangat penting sehingga seseorang dapat bersikap dan berperilaku mulia seperti yang dipesankan oleh Nabi SAW. Dengan konsep akhlak dan proses tersebut akan mengarahkan pada tingkah laku sehari-hari, sehingga sesorang dapat memahami yang dilakukannya baik dan benar ataupun buruk dan salah, termasuk karakter  mulia (akhlaq mahmudah) atau karakter tercela (akhlaq madzmumah).

Dalam al-Quran ditemukan banyak sekali pokok-pokok keutamaan karakter atau akhlak  yang dapat digunakan untuk membedakan perilaku seorang Muslim, seperti perintah berbuat kebaikan (ihsan) dan kebajikan (al-birr), menepati janji (al- wafa), sabar, jujur, takut pada Allah  Swt., bersedekah di jalan Allah, berbuat adil, dan pemaaf (QS. al-Qashash [28]: 77; QS.  al-Baqarah  [2]: 177; QS. al-Muminun (23): 1–11; QS. al-Nur [24]: 37;  QS. al-Furqan [25]: 35–37;   QS. al-Fath [48]: 39; dan QS. Ali ‘Imran [3]: 134). Ayat-ayat ini merupakan ketentuan yang mewajibkan pada setiap Muslim melaksanakan nilai karakter mulia dalam berbagai aktivitasnya.

Keharusan menjunjung tinggi karakter mulia (akhlaq karimah) lebih dipertegas lagi oleh Nabi Saw. dengan pernyataan yang menghubungkan akhlak dengan kualitas kemauan, bobot amal dan jaminan masuk surga. Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Amr:

“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik akhlaknya …” (HR. al-Tirmidzi).

Dalam hadis yang lain Nabi Saw. bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling cinta kepadaku di antara kamu sekalian dan paling  dekat  tempat  duduknya denganku di hari  kiamat  adalah  yang terbaik akhlaknya di antara kamu sekalian ...” (HR. al-Tirmidzi). 

Dijelaskan juga dalam hadis yang lain, ketika Nabi Saw ditanya:

“Apa yang terbanyak membawa orang masuk ke dalam surga?” Nabi Saw. menjawab: “Takwa kepada Allah dan berakhlak baik.” (HR. al-Tirmidzi)

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa karakter dalam perspektif Islam bukan hanya  hasil  pemikiran dan  tidak  berarti  lepas  dari  realitas  hidup,  melainkan merupakan persoalan yang  terkait dengan akal, ruh, hati, jiwa, realitas dan tujuan yang  digariskan  oleh  akhlaq  qur’aniah. Dengan  demikian, karakter  mulia  merupakan  sistem  perilaku  yang  diwajibkan  dalam  agama  Islam melalui nash al-Quran dan hadist.

Tujuan dari pendidikan karakter menurut Islam adalah menjadikan manusia yang berakhlak mulia. Dalam hal ini yang menjadi tolok ukur adalah akhlak Nabi Muhammad SAW dan yang menjadi dasar pembentukan karakter adalah al-Quran. Tetapi kita kita harus menyadari tidak ada manusia yang menyamai akhlaknya dengan Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana seperti dalam hadis riwayat Muttafaq ‘alaih, berikut:

وعن انس رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله علي وسلم احسن الناس خلقا (متفق عليه)
Artinya: 
“Anas ra. Berkata, “Rasulullah Saw. adalah orang yang paling baik budi pekertinya””. (Muttafaq ‘alaih).

Dari hadis tersebut bahwa, sangat jelas akhlak Rasulullah adalah bukti bahwa akhlak beliau sangat sempurna. Dalam hadis ini juga memperkuat pendapat bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah al-Quran berjalan, karena dalam diri Rasulullah terdapat al-Quran tersebut dan beliau tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan yang menyimpang dan melenceng dari akhlak mulia.

Al-Quran adalah petunjuk bagi umat Islam. Seperti yang telah disinggung di atas bila kita hendak mengarahkan pendidikan kita dan menumbuhkan karakter yang kuat pada anak didik, kita harus mencontoh karakter Nabi Muhammad SAW yang memiliki karakter yang sempurna. Dalam pendidikan karakter yang berorientasi pada akhlak mulia kita wajib untuk berbuat baik dan saling membantu serta dilatih untuk selalu sabar, menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Dari uraian di atas maka tujuan pendidikan karakter menurut Islam adalah membentuk pribadi yang berakhlak mulia, karena Akhlak mulia adalah pangkal kebaikan. Orang yang berakhlak mulia akan segera melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

0 Response to "Dasar dan Tujuan Pendidikan Karakter Dalam Islam"

Post a Comment