Kabar Malam Part 2; Sepanjang Hari Hanyalah Gelap


<< Cerita Kabar Malam Part 1

Sejak kapan dunia menjadi gelap gulita seperti ini? Aku sudah berjalan dengan kaki telajang sejak tadi hingga lelah dan tertidur, kemudian bangun lagi, tapi dunia masih saja gelap. Apakah sepanjang hari adalah malam? Dengan langkah sempoyongan, kuseret kaki  untuk kembali menyusuri jalan.

Terdengar suara itu lagi, suara burung gagak. Seketika tulang-tulangku lemas, jatuh tersungkur. Suara itu berkali-kali terdengar, nampaknya burung gagak sedang mengitariku di atas sana, di balik kegelapan. Kupejamkan mata dan menutup telinga, berharap semuanya akan kembali seperti semula. Tapi, aku sendiri juga tidak ingat, bagaimana keadaan yang semula itu? Yang kuingat dunia mengalami siang dan malam, bukan malam sepanjang hari seperti ini.

Untuk beberapa saat aku terjaga dalam pejam dan ketulian. Perlahan kubuka mata dan telinga, masih saja gelap, kabar baiknya adalah suara burung gagak sudah tidak terdengar lagi. Aku mengehela nafas, mengedarkan pandangan ke sekeliling yang tidak ada bedanya antara sisi yang satu dengan yang lain. Aku seperti tidak berjalan ke manapun, hanya berputar-putar di tempat yang sama tanpa menemukan jalan keluar dari tempat gelap ini.

Ada yang datang, hatiku berdegup kencang. Kutarik ekor mata ke arah suara itu. Aku bisa merasakan ada yang sedang menuju arahku dan semakin dekat. Sekarang dia berbelok ke arah yang lain, kemudian kembali ke arahku. Sungguh dia semakin dekat, dua meter, satu meter, aku menghitung, dan dia sudah berada sangat dekat denganku. Menerpa rambut sebahuku yang tergerai, kemudian dia memenuhi tempat ini. Angin, gumamku dalam hati. Iya dia adalah angin, hanya angin saja. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi kepadaku, jalan keluar itu akan segera kutemukan.

Angin semakin kencang berhembus, membuat tubuhku terasa berat untuk dibawa melangkah, melanjutkan perjalanan. Sekejap saja, aku terseret beberapa meter dari tempat semula. Bersamaan dengan itu, tidak kudengar lagi suara angin, lengang. Aku merasakan ada sesuatu yang hendak jatuh dari atas sana. Penasaran, aku mendongak. Sesuatu yang entah apa itu semakin berat dan siap untuk jatuh. Tepat dihitungan ketiga, dia jatuh, memanjang. Mataku sama sekali tidak bisa melihatnya, tapi bisa kurasakan dia terjun dari atas sana, mendengar bagaimana suaranya saat bergesekan dengan udara lembab tempat ini. ‘Tes’, dia jatuh di atas pijakanku. Aku berjongkok, mengamatinya, tetesan itu mengubahnya menjadi kaca dan menampakkan setitik cahaya dari bawah sana. kutelungkupkan badan, mendekatkan mata, mengintip. Di bawah sangat terang, aku kembali mendongak, tersenyum, dia akan kembali jatuh, bukan hanya dia, bahkan beribu-ribu dia, menghujani jalan. Gerimis, gumamku dalam hati sambil menengadahkan kedua tangan.

Sekarang, beribu-ribu dia telah jatuh, titik cahaya bermunculan dimana-mana. Aku berdiri, mendongakkan kepala, memjamkan mata, membiarkan gerimis membasahi muka. Di hitungan ke sembilanratus, gerimis berhenti. Aku sama sekali tidak menghitung, tapi entah, aku bisa merasakan bahwa gerimis berhenti di hitungan kesembilan ratus setelah dia jatuh.

***

Hari telah pagi, mungkin. Aku bisa menikmati cahaya dari bawah sana. tidak hanya itu, ada juga lalu-lalang manusia , masing-masing membawa setangkai bunga yang berbeda warna, indah, aku suka bunga. Seketika ada setangkai mawar merah di tanganku, kuamati sejenak, mawar yang indah dengan wangi semerbak. Kembali aku menatap orang-orang di bawah sana. Wajah mereka terlihat bahagia, berbondong-bondong berjalan ke satu arah. Aku mengikuti dari atas sini. Mereka melewati taman bunga, menaiki perahu, melintasi sungai yang jernih, kemudian berhenti si sebuah rumah yang sangat besar.

Satu persatu dari mereka masuk, dimulai dari anak-anak hingga orang tua. Terakhir, seseorang berjubah hitam melangkah masuk, tapi kemudian dia berhenti sebelum sampai di bibir pintu, menatap bunga di tangannya, mundur beberapa langkah. Dia mengangkat bunga itu, dan seketika berubah menjadi bunga api, begitu pun bunga yang ada di tanganku. Dengan panik aku menatap api yang keluar dari mahkota mawar.

Seorang berjubah itu bersiap melemparkan bunganya ke dalam rumah besar.

“Tidak! Jangan! Kamu akan membakar mereka yang di dalam!” teriakku.

Cerita Kabar Malam Part 3 >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan

0 Response to "Kabar Malam Part 2; Sepanjang Hari Hanyalah Gelap"

Post a Comment