Kabar Malam Part 3; Mawar Merah

Cerbung Keluarga "Kabar Malam Part 3; Mawar Merah"

<< Cerita Kabar Malam Part 2

Dia sama sekali tidak menghiraukanku. Diangkatnya bunga itu semakin tinggi, kemudian diputar-putar. Api dari mahkota bungaku semakin besar, anehnya ketika kucoba untuk melepaskannya dari tangan, sangat sulit, seperti ada lem yang begitu kuat.

Aku berjongkok dengan tetap menjaga jarak dengan bunga di tangan kananku. Seorang berjubah itu mendongak, aku kembali berteriak sambil memukul kaca tempatku berpijak. Nampaknya dia tidak melihatku. Tapi bagaimana bisa? Jarak kami tidak terlampau jauh, bahkan aku bisa dengan jelas melihat wajah mereka, kecuali seorang berjubah itu. Meskipun dia mendongak, aku kesulitan melihat wajahnya dengan jelas.

Dia melangkah maju, mendekati pintu. kali ini benar-benar dekat.

“Berhenti! Jangan lemparkan bunga api itu ke dalam!” teriakku lagi sambil terus memukul kaca.

Percuma saja, bunga api telah dilemparkannya ke dalam. Kemudian dia menutup pintunya, mengunci dengan gembok besar. Aku harus bisa memecah kacanya dan sampai di bawah, menyelamatkan mereka yang di dalam.

Dengan kuat kupukul kaca menggunakan kedua tangan. Hingga kusadari bahwa bunga api di tanganku telah lenyap. Entah sejak kapan. Kepul asap mulai keluar dari sudut-sudut rumah dan seorang berjubah menghilang. Terdengar teriakan dan tangis yang menyayat hati. Aku terus memukul kaca, hingga tanganku berdarah.

“Ayo! Pecahlah!” seruku dengan panik. Kaca yang kupukul mulai retak. Sementara rumah di bawah sudah terbakar separuh.

Aku bangkit, menghentakkan kaki ke kaca, dan, terjatuh bersama dengan pecahannya. Aku mendengarnya lagi, suara burung gagak itu. Seketika semuanya berjalan begitu lambat. Bermacam kejadian melintas di mataku. Seorang gadis kecil sedang berlari-lari dengan riang, dituntun oleh Ibunya, membawa mawar di tangan. Perempuan tua membawa sebungkus nasi, dia tampak sangat bahagia. Sepasang kekasih berjalan bergandengan, si perempuan menatap cincin di jari manisnya sambil tersenyum. Mereka semua kemudian menaiki bus yang sama. Tiba-tiba bus terbakar. Percikan apinya mengarah ke mataku. seketika kututup mata dengan telapak tangan.

***

Kurasakan tubuhku masih melayang di udara dengan gerakan yang lambat. Ketika aku membuka mata, kulihat hamparan taman bunga mawar, berwarna warni. Tanganku mencoba memetik satu, berhasil. “Bunga yang indah” gumamku dalam hati.

Baru berapa detik menikmati keindahan dan wanginya, bunga itu berubah menjadi bunga api. Terkejut, aku melemparkannya. Sekarang, tubuhku melayang dengan cepat. Kejadian-kejadian itu melintas berulang di mataku. Api, api, dan api.

***

“Sari! Ayah, lihat Sari membuka mata. Dia telah sadar.” Suara itu, aku seperti mengenalnya, Mas Indra. Kemudian terdengar suara langkah yang terburu-buru mendekat.

“Alhamdulillah. Panggil dokter, Ndra! Cepat!” seru Ayah samar.

Aku masih belum mengerti apa yang dimaksud sadar dan membuka mata. Dunia terasa begitu membingungkan. Tidak lama kemudian, kudengar langkah mendekat dari arah jam dua belas. Lebih dari seorang.

“Lihat, Dok. Putri saya telah sadar. Apakah dia baik-baik saja?”

“Biar saya periksa dulu ya, Pak.”

Lengang beberapa saat. Kedua kelopak mataku ditarik pelan ke atas.

“Maaf, Pak. Bisa ikut saya ke ruangan? Ada yang harus saya bicarakan.”

Kembali terdengar langkah kaki, menjauh.

“Alhamdulillah. Kamu sadar juga Sari. Kami semua mengkhawatirkanmu.” Ucap Mas Indra.
“Lihat, sejak tiga hari yang lalu Nida rutin membawakanmu bunga mawar, bunga kesukaanmu. Ini, ambillah.”

Lihat, ambillah. Aku harus melihat kemana dan mawar seperti apa yang harus kuambil? Tidak, mulai sekarang aku tidak suka mawar. Bunga itu bisa berubah menjadi api. Aku takut.

“Sari, kamu tidak suka mawarnya?” tanya Mas Indra. “Lihatlah, mawarnya indah dan wangi.”

Aku tahu mawarnya wangi, hidungku bisa menciumnya. Tapi tentang keindahan mawar yang dibawa Nida, aku hanya bisa membayangkan.

“Wangi. Tapi aku tidak bisa melihatnya. Gelap. Beberapa saat yang lalu aku juga ada di tempat yang gelap, Mas. Tapi kemudian gerimis itu membuatnya terang.” Kataku lirih.

Mas Indra tidak menanggapi perkataanku. Kembali lengang. Dengan jelas aku dapat mendengar nafasnya yang berat, disusul dengan isak tangis. Jangan, kumohon jangan tangis itu lagi, menyanyat hati.

Bersambung >>

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan

0 Response to "Kabar Malam Part 3; Mawar Merah"

Post a Comment