Kemuning Dalam Tanya

Cerpen "Kemuning Dalam Tanya"

“Posisikan dirimu sebagaimana kamu berada di posisinya, Ning.” Lembut kata-kata Ria menyusup ke telinga, dia adalah seorang teman perempuan yang lebih dari teman.

Aku menunduk, memandangi layar ponsel yang masih menampilkan pesan dari seorang wanita. Berkali-kali kubaca, isinya tidak berubah. benar, aku seperti sedang ditampar oleh tanganku sendiri.

Cobalah bayangkan, apakah Mbak tidak patah hati jika kekasih Mbak masih saja berhubungan dengan mantan. Apalagi yang dibahas adalah masa lalu. Aku yakin Mbak pernah merasakan hal ini. jadi, aku minta tolong dengan sangat, Mbak mengertilah dengan perasaanku. Aku sudah menerima dia dengan keadaannnya yang sekarang, juga dengan kejujurannya atas perasaan terhadapmu, Mbak. Tidak cukupkah itu?

Iya, aku memang pernah merasakannya. Berkali-kali selama tiga tahun menjalin hubungan dengan Yuda, kekasih wanita yang baru saja mengirim pesan, tidak lain adalah mantan kekasihku. Aku masih ingat, betapa hatiku hancur saat membaca pesan dari mantan kekasih Yuda,  juga riwayat panggilan keluar yang tertera nomer ponsel wanita-wanita di masa lalu.

Foto, rekaman telfon, barang-barang kenangan, semuanya masih disimpan rapih olehnya. Bahkan, dia bertemu, berkencan dengan mantan-mantannya di belakangku. Tapi, dengan mudah dia mendapatkan maaf dariku, entah aku yang dibodohi atau dia yang terlalu pintar?

Aku paham teorinya, sebagaimana yang Ria katakan. Tapi, sungguh sulit untuk melakukannya. Sering kali teman-temanku datang, menceritakan masalahnya, aku selalu berhasil menenangkan mereka, membantu mereka membuat pilihan dan menyelesaikan masalah. Sangat mudah bagiku mengatakan ini itu. Tapi betapa sulitnya membuat pilihan atas diriku sendiri.

“Aku tahu, Ria. Tapi sulit sekali untuk melakukannya. Aku gagal.” Jawabku lirih.

Ria memelukku, “Kemuning, aku tahu kamu kecewa kepada dirimu sendiri.”

“Kenapa aku tidak rela melihat mereka bahagia, Ria?”

“Apakah kamu masih mencintainya?”

Aku terdiam, mencoba mencari jawaban pada lubuk hati yang terdalam,

“Aku tidak tahu.” Jawabku lirih, menggeleng. “Aku ingin sendiri dulu, Ria.”

***

“Kemuning, aku seperti orang gila sekarang. Lihatlah, hidupku hancur. Kenapa kamu tidak memberiku kesempatan?” kata Yuda dengan tatapan kosong sambil menghantamkan kepalanya ke tiang listrik  di depan rumah malam itu.

Dalam hati aku tertawa lepas, melihat lelaki yang menyakitiku menderita. Setiap sore hingga malam berdiri di depan gerbang rumah, berharap aku mau berbaik hati keluar dan menemuinya.

Semakin hari tubuhnya semakin kurus, kabar yang kudengar, dia sering mabuk-mabukkan. Aku mau hidupnya benar-benar hancur. Dan, hanya aku yang bisa menyembuhkannya, hanya aku. Dengan begitu, sekalipun aku menghancurkan hidupnya, dia akan tetap mencariku, yang baginya adalah penawar.

“Aku tidak tahu apakah kesempatan itu masih atau tidak, Yuda. Yang jelas, saat ini aku ingin pergi darimu. Mengusaikan tentang kita.”

Jadilah, hidupmu semakin hancur, dan aku menatap setiap jengkal kehancuran itu dengan tawa.

***

Kembali kutatap layar ponsel, merangkai huruf demi huruf untuk membalasnya, kemudian kuhapus lagi. Apa yang harus kutulis untuk membalas pesan wanita itu? Dan tentang pertanyaan Ria, apakah aku masih mencintainnya, belum juga bertemu jawab. Aku terduduk, meremas rambut. Rasanya ingin kuhantamkan tempurung kepala ke tembok, dan berkata aku seperi orang gila, hidupku sekarang hancur, Yuda.

Aku hancur melihat kebahagiaannmu dengan wanita itu. Terlebih dia mau menerima keadaanmu. Dan, kulihat keadaanmu membaik, hidupmu kembali tertata, bahkan luka dimatamu tidak lagi terihat. Apakah wanita itu penawarnya? Bagaimana bisa begitu? Seharusnya kamu terus mengejarku, kemudian aku memberimu harapan.

Dan disaat kamu mulai sembuh, kutinggalkan, biar hidupmu menjadi hancur lagi. Ah, sungguh aku tidak rela jika kamu lebih bahagia ketimbang aku. Jadi, masih cintakah aku padamu? Atau ini adalah dendam?

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan

0 Response to "Kemuning Dalam Tanya"

Post a Comment