Mekar

Cerpen Kisah Cinta Romantis "Mekar"

Seminggu setelah kelopak mawar terakhir jatuh:

Sekiranya kali ini aku harus menutup diri, jangan kau buka lagi dengan mantra-mantra menyesakkan dada. Biarkan saja kali ini kututup saja jendela, pintu, mata, hati, telinga, kesemuanya.

Apakah menjadi angkuh dan tidak perduli itu jauh lebih baik? Apakah menjadi penyendiri jauh lebih nyaman? Apakah menjadi dibenci itu lebih hebat dari pada dicintai dan diingikan?

Ah, aku tutup saja jendela. Udara di luar kadang mempermainkanku. Begitupun cuaca, langit, bintang-bintang dan matahari. Kesemuanya mempermainkanku. Aku tutup saja jendela, biarlah dingin menyelimutiku saat tiba musim bunga salju, biarlah panas merambati sumbu-sumbu kegelisahan saat ia mengganas.

Ah, aku tutup saja pintu. Seberapa dan sekuat apapun kau datang mengetuknya. Lagi pula, tidak ada lagi secangkir kopi, remah roti, juga sepenggal cerita yang kusuguhkan untukmu.

Ah, aku tutup saja mata. Biar diri tak tahu arah, sebab aku pernah berarah, tapi berdarah dan tersulut amarah yang terkasih. Biar aku tak kenal lagi warna pelangi juga pendar cahaya lampu di bawah gerimis.. Mataku ini, gagal melihatmu seutuhnya, tertipu oleh penglihatanku sendiri.

Ah, aku tutup saja hati. Sebab ia telah dibodohi oleh mata.

***

“Apa kabar hubunganmu dengannya, Kyla?”

Apa itu? Sebuah pertanyaan atau sindiran? Aku menghela nafas, membolak-balik halaman buku, yang kucari tidak ditemukan, kuletakkan di rak lalu bergeser ke rak yang lain. Kemal mengikuti, mengambil satu buku yang hingga obrolan kami berakhir, dia hanya memegangnya tanpa dibuka.

“Kamu sangat bahagia bersama dia ya, Kyla?” tanyanya lagi.

Aku mengambil satu buku, membuka halaman pertama, membaca daftar isi, “Seperti yang kamu tahu.” Jawabku.

“Aku hanya tahu kamu sekarang menjalin hubungan dengannya, bahagia atau tidaknya, sama sekali aku tidak tahu. Apa kamu tahu?”

“Tentu, aku tahu. Aku bahagia dengannya.”

Bagaimana aku tidak bahagia? Ada seorang lelaki yang tidak pernah membuatku cemas akan dikhianati, membuatku nyaman, memberikan perhatian yang tidak berlebihan, dan berani berkomitmen. Apa lagi yang aku cari? Dia sudah lebih dari cukup bagiku.

“Kamu juga pasti sangat bahagia bersama dia, ya, Kemal?” aku balik bertanya.

“Aku, tentu bahagia bersama dia. dan, aku khawatir kalau kamu tidak bahagia dengan kekasihmu yang sekarang. Bukankah kamu sangat mencintaiku?”

Tidak. Berhentilah mengusik jantungku yang sedang berdetak tenang. Tidak seharusnya dia menanyakannya lagi. Hanya akan membuat lukaku kembali basah.

“Diamlah Kemal. Aku sedang sibuk mencari buku untuk menyelesaikan skripsi.”

“Kamu tahu, Kyla? Aku tidak bisa mencintainya lebih dari aku mencintaimu. Katakan Kyla, kalau kamu juga begitu.”

Aku menggigit bibir, menutup buku di tanganku, menatap ke luar jendela perspustakaan lantai dua yang bersebelahan dengan gedung perkuliahan. Koridor di seberang sana dilewati oleh seorang lelaki yang sangat kukenal, Surya, kekasihku. Dia terlihat sibuk dengan ponselnya, seperti sedang mencoba menelfon. Benar, dan dia menelfonku.

“Halo, Kyla. Kamu dimana?”

Kutatap sekeliling, juga Kemal yang berdiri di sebelahku, “Di perpustakaan.”

“Masih lama?”

“Emh, tidak. Sebentar lagi aku keluar. Buku yang kucari tidak ada. Perpustakaan ini menyebalkan.”

Terdengar tawa kecil dari seberang sana,”Keluarlah dari perpustakaan yang menyebalkan itu. Besok kita ke toko buku saja. Aku menunggumu di taman depan perpustaakaan, aku harap kamu segera keluar. Karena jika kamu terlalu lama, aku akan menua di bangku taman sendirian, menyedihkan bukan, Kyla?”

Aku tersenyum, menatap tubuhnya yang hilang menuruni tangga di koridor sana, “Sangat menyedihkan. Aku akan segera keluar.”

Telfon kuputuskan. Kemal menatapku sambil tersenyum kecut, kemudian menyerahkan sebuah undangan pernikahan berwarna merah jambu, “Datanglah ke pernikahanku. Dengar, Kyla. Aku memang tidak bisa mencintainya lebih dari aku mencintaimu. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa.”

***

Di taman, Surya sudah menunggu. Dia duduk di bangku dekat pohon bunga mawar yang sedang bermekaran, kemudian bangkit saat melihatku mendekat. Dilemparkannya sebuah senyuman.

“Beruntung, aku belum menua di sini, Kyla. Kalau aku menjadi tua, nanti kamu tidak mau jika kusematkan cincin ini di jari manismu, apa lagi diajak duduk di pelaminan seminggu lagi. Mana mau gadis muda sepertimu bersanding dengan seorang kakek-kakek, ya kan?”

Surya tersenyum sambil menyematkan cincin di jariku. Sementara aku menatapnya bingung.

“Kenapa, Kyla? Apa kamu tidak mau menikah denganku?”

Tahukah? Hatiku saat ini lebih mekar ketimbang mawar-mawar itu, “Tentu saja aku mau.”

Penulis: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan

0 Response to "Mekar"

Post a Comment