Takdir Tuhan Untuk Harum

cerpen cinta romantis sedih "takdir tuhan untuk harum"

Siang yang begitu terik, lalu lalang kendaraan menambah panas kota. Harum sedang duduk di halte bus sambil mengipaskan koran ke wajahnya yang berkeringat. Nampaknya dia sangat kehausan. Beberapa bus datang dan berhenti di halte, tapi gadis itu masih saja duduk di bangku. Matanya terus mengawasi ujung jalan, dia sedang menunggu bus yang akan mengantarnya ke kampus.

Dia berhenti mengipaskan koran, kemudian mengeluarkan botol minuman dari tas ransel, melepas penutup, hendak meneguknya. Ekor mata Harum menangkap warna kepala bus yang sangat dia hafal, biru muda dengan garis-garis kuning. Bus semakin dekat dengan halte, tampak sesak, ya begitulah sehari-harinya. Dia harus berjubel dengan penumpang lain agar bisa sampai di kampus. Tidak jarang pakaiannya lusuh, rambutnya berantakan selepas turun dari bus, dan bahkan dia pernah kehilangan dompet beserta isinya. Di kota besar memang banyak copet berkeliaran.

Kernet bus memerintahkan kepada penumpang untuk berbagai ruang dengan gadis itu.

“Sudah penuh! Turun saja menunggu bus selanjutnya!”

“Gila saja! Kami bisa mati sesak nafas karena berjubel seperti ini.”

“Jangan injak kakiku!”

Komentar-komentar seperti itu sudah terbiasa didengar. Harum tidak pernah memperdulikannya, yang terpenting dia sampai di kampus tepat waktu. Dia bergelantungan di dekat pintu. Rambutnya tersibak oleh angin. Tidak apa, dia suka seperti itu daripada mendapat ruang di dalam, pengap. Di dekat pintu lebih baik, dapat  melihat kendaraan yang melintas, dan tentunya tidak pengap. Ya walaupun besar kemungkinan wajahnya lengket, kotor terkena asap dan debu jalanan.

Bus melaju setelah Harum dan dua penumpang lainnya naik. Lampu lalu lintas menyala merah, bus berhenti. Penumpang semakin ribut di dalam, kepanasan. Lampu berganti kuning, seorang lelaki berlari mengejar bus yang bersiap untuk melaju, dan lampu sudah terlanjur berganti hijau.

“Berhenti!” teriaknya sambil membetulkan tasnya yang hampir saja terjatuh.

“Cepat, cepat!” teriak kernet bus.

Pemuda itu berlari semakin cepat, berusaha mensejajari bus. Dia menjulurkan tangannya.

“Tarik aku! Cepat! Aku bisa terlambat!” dia berseru kepada Harum.

Harum mengulurkan tangannya, lelaki itu meraihnya mantap, dan dengan sekejap mereka sudah berdiri berhadapan, salah satu kaki lelaki itu masih menggantung.

“Desta.” Ucap lelaki itu.

“Hah?” kening Harum berkerut.

“Namaku Desta. Desta Rangga” Lelaki yang baru saja memperkenalkan diri itu menganyunkan tangan mereka yang masih bersalaman.

Buru-buru Harum melepaskan tangannya, “Harum. Harum Irsalina.”

***

Mereka turun di depan kampus yang sama. Baru kali ini Harum satu bus dengan lelaki itu. Sebelumnya dia sama sekali tidak pernah melihatnya menunggu bus di halte layaknya para penumpang yang lain.

“Loh, ternyata kita satu kampus?” tanya Desta.

“Iya. Atau kamu salah arah?”

Desta tertawa kecil, sambil membetulkan tasnya yang merosot. “Aku tidak salah arah. Oh iya, salam kenal Harum. Sayangnya aku sedang terburu-buru, jika tidak kita bisa saling mengobrol sambil membersihkan wajahmu.”

Harum mengusap wajahnya, tersenyum, “ Lain kali. Kalau dipertemukan lagi.”

Desta berlari meninggalkan Harum yang berjalan menuju ke aula utama kampusnya. Di sana sudah ramai, maklum saja, sebuah seminar sedang digelar dan akan dibuka beberapa menit lagi, beruntung Harum belum terlambat. Dia, paling tidak suka terlambat, itu akan membuatnya ketinggalan materi yang disampaikan oleh pembicara seminar.

Temannya, Tyas, sudah mempersiapkan sebuah kursi untuk Harum, di barisan ketiga paling depan.

“Harum, aku kira kamu tidak jadi datang.”

“Aku tidak akan melewatkan seminar ini, Tyas. Tadi itu busnya sedikit terlambat. Terimakasih sudah memepersiapkan kursi untukku.”

Beberapa menit kemudian, pembawa acara mulai membuka rangkaian pembukaan seminar. Sambutan demi sambutan di sampaikan. Tiba pada acara inti, dan betapa terkejutnya Harum melihat lelaki yang saat ini sedang menaiki panggung, melambaikan tangan, melempar senyum, diiringi tepuk tangan meriah dari para peserta seminar. Kemudian dia duduk di kursi yang disediakan panitia.

“Desta Rangga.” Ujarnya sambil bertepuk tangan tidak percaya.

“Kamu mengenalnya, Harum?”

“Iya, tadi, di bus.”

“Seorang Desta Rangga naik bus?”

Harum menoleh, “Memangnya dia itu siapa?”

“Astaga Harum, kamu sungguh tidak tahu siapa Desta Rangga?”

Harum menggeleng polos, “Dia itu mahasiswa nomer satu di kampus kita.” jelas Tyas.

Harum hanya pernah mendengar nama Desta, tapi dia belum pernah melihatnya dan sama sekali tidak menyangka bahwa Desta yang dipuji-puji seantera kampus adalah Desta Rangga yang baru saja dia kenal.

***

Setelah seminar, Harum dan Desta kembali dipertemukan di bus ketika hendak pulang. Kali ini bus tidak begitu sesak. Mereka duduk bersebelahan, saling bertukar cerita. Begitu setiap hari sepulang kuliah. Jika pagi, mereka hanya bisa bergelantungan bersama di dekat pintu bus. Tidak mengobrol, hanya saling menatap beberapa kali, saling melempar senyum.

“Harum. Besok aku akan berangkat ke Belanda.” Kata Desta di sore kesekian sepulang kuliah

Ada kesedihan yang menyusup di hati Harum. Desta memang bukan siapa-siapanya, begitupun sebaliknya. Tapi perjalanan dari halte ke kampus, dan dari kampus ke halte, cukup membuatnya merasa nyaman dengan Desta. Harum menunduk, kemudian melemparkan pandangan ke luar jendela.

“Aku akan lama di sana, Harum.”

Harum masih menatap ke luar, menelan ludah.

“Apa kamu percaya takdir?” tanya Desta kemudian.

Harum masih saja diam, ada yang menggenang di matanya.

“Harum, dengar, menemukan itu bukan tentang kebetulan, tapi tentang takdir Tuhan. Aku telah menemukanmu, seorang wanita yang bergelantungan di dekat pintu bus, mau mengulurkan tangannya, membantu seorang lelaki yang tidak dikenalnya untuk naik ke bus agar dia tidak terlambat mengisi seminar yang mengantarkannya mendapatkan kesempatan ke Belanda. aku percaya ini adalah tadir Tuhan. Dan, aku akan menyerahkan semuanya kepada takdir Tuhan. Semoga aku akan menemukanmu lagi.”

***

Semuanya telah dititipkan Desta kepada takdir Tuhan. Dan hingga tujuh tahun kepergiannya. Takdir itu tidak juga mempertemukan mereka lagi. Harum menatap pantulan wajahnya di cermin, dia baru saja selesai dirias. Ternyata takdir memilih orang lain untuk dipertemukan dengannya.

Cerpen Oleh: Anggita Aprilia Sari
Editor: Noval Irmawan

0 Response to "Takdir Tuhan Untuk Harum"

Post a Comment