[Cerpen] Doa Seorang Kakek

"Kalau saja hidup ini bisa memilih, saya tidak akan memilih hidup seperti ini. Kalau saja hidup ini bisa memilih, saya akan memilih hidup yang bisa membuat cucu saya pergi rekreasi bersama teman-temannya."

~ Doa Seorang Kakek ~
[Cerpen] Doa Seorang Kakek
Cerpen Doa Seorang Kakek/ Ilustrasi via http://bingungmenulis.blogspot.co.id
Sinar matahari menyengat kulit, membuat peluhku berjatuhan, tenggorokan rasanya sangat kering, berkali-kali aku menelan ludah, memandangi deretan warung makan dengan terus memegangi perut yang baru terisi sepotong roti tadi pagi. Aku menepi di depan pertokoan yang kebetulan tutup, terduduk dengan lemas. Kemudian merogoh saku celana, masih ada selembar uang sepuluh ribuan. Lumayan, bisa untuk membeli air mineral dan roti, pikirku.

Lampu lalu lintas di depanku menyala merah, kendaraan berhenti, seorang kakek penjual koran menjajakan dagangannya. Tidak ada yang tertarik memberi hingga lampu berganti menyala hijau. Dia kemudian menepi, berjalan ke arahku. Wajahnya lebih tua dari yang kukira, kakek itu sangat kurus, tulang-tulangnya menonjol dengan jelas, terbalut kulit keriput yang hitam legam.

Dia duduk di dekatku, kemudian menawarkan koran. Sungguh aku ingin membelinya, tapi aku hanya punya uang sepuluh ribu rupiah, itupun untuk membeli air mineral dan roti. Sejenak aku menatap uang di tangan, kemudian beralih menatap kakek itu.

“Berapa harganya, Kek?” tanyaku.

“Delapan ribu rupiah, Nak.”

“Saya beli satu, Kek.”

“Silahkan dipilih korannya, Nak.”

“Terserah Kakek saja mau memberikan yang mana.”

Kakek itu memilah koran di tangannya, kemudian menyodorkan satu, sebuah koran lokal.

“Ini uangnya, Kek.” Kataku.

Kakek itu terdiam, memandangi uang di tangannya, “Tidak ada kembalian, Nak. Dari pagi belum ada satupun koran yang terjual. Biar saya tukarkan dulu uangnya.” Katanya dengan suara parau dan sedikit terbata-bata. Kemudian berusaha bangkit.

“Kek, sudah tidak perlu. Ambil saja kembaliannya untuk Kakek.”

Kakek itu sempat menolak sampai akhirnya aku berhasil membujuknya. Lampu lalu lintas kembali menyala merah.

“Terimaksih Nak. Kakek doakan semoga rejekinya lancar.”

Kakek itu pergi lagi untuk menjajakan koran lagi setelah mengucapkan terimakasih kepadaku. Aku membalasnya dengan senyum.

Sekarang aku sama sekali tidak memegang uang sepeser pun. Hanya ada sebuah koran di tangan. Ada yang seketika menarik perhatianku. Foto seorang lelaki yang terpampang jelas di halaman pertama, wajahnya tidak asing. Fariz, dia adalah teman semasa SMAku. Setelah kubaca beitanya, ternyata benar, dia adalah Fariz. Sekarang dia menjadi pengusaha restoran yang sukses, cabangnya tersebar di berbagai daerah. Sedangkan pusatnya ada di kota ini, kota tempatku merantau.

Seakan ada angin segar yang menerpaku. Tepat setelah lampu lalu lintas menyala hijau, aku menghampiri kakek penjual koran yang hendak menepi.

“Permisi, Kek. Apa Kakek tahu alamat ini?”

Kakek itu mengedip-ngedipkan matanya, “Kakek tidak bisa melihatnya dnegan jelas. Lagi pula Kakek ini tidak bisa membaca.”

Aku merasa bersalah, barangkali aku telah menyinggungnya secara tidak langsung, “Oh maaf, Kek. Biar saya bacakan. Jalan Perjuangan III, Nomor 47.”

Kakek itu menerawang ke seberang jalan, diam sejenak. Nampaknya dia sedang mengingat-ingat sesuatu.

“Iya, Kakek tahu, Nak.” Katanya kemudian. Dia menunjukkan alamat itu dengan gamblang, mungkin sudah lama tinggal di kota ini sehingga begitu memahami. Setelah mengucapkan terimakasih, aku berpamitan pergi. kemudian berjalan kaki sesuai petunjuk yang dijelaskannya. Satu setengah kilometer jarak yang harus kutempuh.

***

Aku sampai di depan sebuah restoran yang ramai pembeli, parkiran dipenuhi kendaraan mulai dari roda dua hingga roda empat. Kursi-kursi juga terisi penuh. Aku sempat ragu untuk masuk, takut kalau mereka memandangku sinis, seorang lelaki mengenakan kemeja dan celana lusuh dengan sebuah koran dan map berisi surat lamaran pekerjaan di tangan. Jangan-jangan mereka akan mengira bahwa aku adalah orang yang meminta sumbangan. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, akhirnya kuputuskan untuk masuk. Seorang pegawai menyambutku ramah, di luar dugaan.

“Emh, saya mencari Pak Fariz, ada?” tanyaku.

“Kebetulan Pak Fariz sedang ada tamu di ruangannya. Kalau boleh tahu Bapak ini siapa ya?”

“Saya Dion, teman SMAnya.”

“Oh, kalau begitu saya coba hubungi sekretarisnya, barangkali Pak Fariz bisa menemui Bapak.”

Aku mengangguk. setelah menunggu beberapa saat, pegawai itu memintaku untuk menunggu Fariz. Dia mengantarku ke sebuah ruangan, nampak seperti ruang tamu. Katanya setengah jam lagi Fariz baru bisa ditemui.

***

Setengah jam berlalu, Fariz datang dengan seorang wanita, mungkin dia adalah sekretarisnya. Kami saling menatap, kemudian bersalaman, merangkul satu sama lain.

“Yoyon, Apa kabar?” sapanya - dengan panggilan akrabku, Yoyon - sambil menepuk-nepuk bahuku.

“Alhamdulillah sehat, Riz. Kamu apa kabar? Luar biasa sekarang sudah jadi pengusaha sukses.” Aku balik menepuk bahunya.

“Alhamdulillah sehat juga. Ya beginilah, Yon. Menyalurkan ide kreatif Mamah dalam dunia kuliner.”

Fariz mempersilahkanku duduk, kemudian meminta karyawannya untuk menyuguhkan minuman. Kami bernostalgia, melepas tawa. Setelah dirasa cukup, aku menceritakan keadaaanku yang ssat ini. tentang usaha keluarga yang bangkrut tepat setelah aku lulus SMA, kondisi kesehatan Papah yang memburuk. Lalu kuutarakan maksud kedatnganku, yaitu untuk melamar pekerjaan di restoran miliknya.

Fariz turut prihatin atas apa yang terjadi padaku. Dia kemudian memberiku pekerjaan sebagai pelayan restoran, hanya formasi itu saja yang masih tersisa. Aku sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan itu. Fariz juga mengijinkanku tinggal di mess restorannya. Di kota besar seperti ini sangat sulit mencari pekerjaan, apalagi aku hanya tamatan SMA. Koran yang kubeli dari kekek itu, kusimpan di laci sebagai kenangan yang berarti.

***

Sudah sebulan aku bekerja di restoran Fariz. Dan, hari ini adalah saatnya menerima gaji. Aku teringat dengan kakek penjual koran. Melalui dialah aku bisa bertemu dengan Fariz dan bekerja seperti sekarang ini. Aku sangat ingin bertemu dengannya dan mengucapkan banyak terima kasih. Keesokan harinya di jam pergantian shift, aku pergi ke tempat pertama kali bertemu dnegan kakek itu. Di tangan sudah kubawakan oleh-oleh dan amplop berisi uang.

Dengan perasaan bahagia, aku menatap kakek yang hendak menepi setelah menjajakan korannya. Tidak sabar untuk memeluknya, aku berjalan menghampiri, melambaikan tangan. Kakek itu tersenyum, dia masih mengingatku. Dia hampir saja sampai di trotoar, tapi tiba-tiba sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabraknya, tubuh tua itu terpelanting ke tengah jalan. Kendaraan yang melintas mengerem mendadak. Seketika jalan menjadi macet.

Sekantung oleh-oleh di tanganku terjatuh. Aku segera berlari ke tengah jalan. Para pengendara hanya menatap tubuh kakek itu dengan ngeri. Tidak ada satupun dari mereka yang turun menolong. Bahkan ada yang berhenti untuk sekadar melihat, kemudian pergi.

“Kek, Kakek. Bangun Kek!” seruku panik, air mata menetes seketika.

“Apa kalian tidak punya hati?! Tidak bisakah kalian membantuku mengantar kakek ini ke rumah sakit? “ teriakku kepada para pengendara.

Beberapa pengendara sepeda motor akhirnya menepikan kendaraannya, kemudian membantuku mengangkat Kakek yang berlumuran darah ke tepian, depan pertokoan yang tutup. Dengan panik kutelfon ambulan.

Terlambat sudah aku membawanya ke rumah sakit. Kakek itu sudah tidak bernapas lagi. Tangisku pecah, dadaku terasa sesak melihatnya menutup mata untuk selamanya. Perlahan kuselimutkan koran ke tubuhnya. Koran adalah awal dan akhir pertemuan kami. Aku berjanji akan menyelimuti kuburnya dengan doa-doa.

(Anggita/CRPN)

0 Response to "[Cerpen] Doa Seorang Kakek"

Post a Comment