[Cerpen] Mentari, Terbitlah di Pesantrenku!

"Seperti matahari, segala kehidupan alam akan selalulah bercahaya. Seperti apapun bentuk cahayanya"

~ Mentari, Terbitlah di Pesantrenku! ~
[Cerpen] Mentari, Terbitlah di Pesantrenku!
Ilustrasi [Cerpen] Mentari, Terbitlah di Pesantrenku! via www.alhusnajepara.com
Pagi buta Hasna memaksa matanya untuk terbuka, menguap beberapa kali, mengucek mata, kemudian bangkit mengambil jilbab, memakainya. Dengan hati-hati, Hasna melangkah melewati teman-temannya yang masih tertidur pulas, dia takut menginjak kaki mereka. Mata yang masih berat berusaha dibukanya lebar-lebar, mengamati langkah.

Di luar dekat kamar mandi, dua ember pakaian kotor sudah menunggu. Itu adalah alasan mengapa Hasna bangun sepagi ini, padahal jadwal kuliahnya pukul sembilan pagi. Maklum, di pesantren dia harus berebut air dengan santri yang lain. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan di rumah. Kamar mandi sudah ramai, tapi belum sampai ada antrean panjang, hanya saja semua kamar mandi terisi.

Beruntung ada satu yang masih kosong. Telat sedikit saja, maka harus menerima kenyataan bahwa dia harus menunggu yang lain selesai sambil berngantuk-ngantuk ria dan harap-harap cemas tidak kebagian air.

Hasna memasukinya, membawa dua ember pakaian kotor, memutar keran, air yang begitu segar mengalir, dia membasuh muka. Kemudian mulai bergelut dengan cucian yang terlampau banyak. Maklum saja, seminggu belakangan dia sibuk di kampus, pergi pagi pulang sore. Sebenarnya bisa saja dia memakai jasa laundry, tapi pengeluaran bulanan membuatnya harus berpikir berkali-kali.

“Mbak kamar mandi nomer satu.” Panggil seseorang di sela pergulatannya dengan cucian.

“Habis Aku nggak ada. Tapi masih lama, lagi nyuci.” Seru Hasna.

Dia sudah hafal apa kelanjutan dari panggilan seseorang itu, tentu dia akan bertanya apakah ada orang lain sehabis Mbak dan apakah masih lama di dalam? atau ada opsi kedua yaitu Mbak ada tempat sabunku yang blablabla nggak? Tolong ambilkan.

“Kira-kira berapa lama, Mbak?”

“Pokoknya masih lama, cucian dua ember, belum mandinya.”

Seseorang yang entah siapa itu kemudian beralih bertanya ke kamar mandi di sebelah Hasna secara berurutan.

***

Adzan subuh mulai dikumandangkan, Hasna selesai mencuci, mandi dan berwudlu. Kamar mandi sudah dipenuhi antrean panjang. Selepas sholat subuh berjama’ah di mushola pesantren dan mengaji, Hasna menjemur pakain di depan komplek kamarnya. Bambu untuk tempat menjemur penuh sesak oleh pakaian santri lain yang masih basah, bahkan ada juga yang sudah kering tetapi belum diambil oleh empunya. Hasna harus pintar mencari celah unuk menggantung pakaiannya.

“Habis nyuci , Has?” tanya teman sekamarnya, Inayah.

“Iya nih.”

“Emh, keringnya bisa-bisa tahun depan, Has. Tuh pakaianku sudah hampir dua minggu belum kering. Hampir kering, eh ketempelan pakain lain yang masih basah. Gagal kering deh plus bau amis.” Ujar Inayah sambil berlalu membawa handuk.

Hasna mengela nafas, mengamati pakainnya yang sudah tergantung. Kemudian bergegas ke kamar, membuka lemari, memastikan masih ada baju yang bisa dipakai untuk pergi ke kampus hari ini.

Dia duduk terpatut di depan lemari yang terbuka, diamatinya tumpukan baju yang tersisa, atas hingga bawah, bawah hingga atas. Sepuluh menit berlalu, dia belum memutuskan baju mana yang akan dipakai.

“Hasna, sudah siap?” tanya Nur yang tiba-tiba datang. Dia adalah teman kelas Hasna yang kebetulan satu kompleks dengannya.

“Bukannya kita kuliah nanti ya jam sembilan?”

“Has, kan ada jam pindahan sekarang, jam tujuh.”

Hasna menepuk dahi, untung saja dia sudah mandi.

***

Seribu tiga, begitu yang biasa teman-teman katakan ketika ada mahasiswa yang memakai pakaian dengan warna tidak nyambung, antara jilbab, baju, dan rok. Seperti Hasna hari ini, dia seperi rainbow cake berjalan. Bukan hanya hari ini, bahkan hingga beberapa hari ke depan.

Setiap sebelum berangkat dan sepulang kuliah, Hasna selalu mengecek pakaiannya, masih belum kering. Padahal baju yang tersisa tinggal beberapa potong.

“Hasna, kamu kenapa? Dari tadi kok kayaknya murung? Pusing mikirin tugasnya Pak Odi ya?” tanya Nur dan diiyakan oleh teman-teman yang lain.

“Ini tuh lebih memusingkan dari pada tugasnya Pak Odi.” Timpal Hasna.

“Emang apaan?”

“Kamu tahu hal yang paling membahagiaan bagi anak pondok?” tanya Hasna serius.

“Ngajinya libur.”

“Ustadznya berhalangan hadir.”

Teman-temannya berpendapat. Hasna menggeleng.

“Bukan, ada yang lebih membahagiakan dari itu, salah satunya yaitu cucian kering.”

Teman-temannya ada yang tertawa, ada juga yang menepuk dahi.

***

Semua cucian Hasna telah kering. Dia mengangkatnya kemudian menyetrika. Dimasukkannya pakian yang telah rapih ke dalam lemari. Senyum mengembang di bibir Hasna, sekarang banyak pilihan pakaian yang bisa dikenakannya ke kampus. sungguh membahagiakan bagi Hasna.

***

“Hasna, Hasna, bangun! Sholat subuh.” Inayah membangunkan Hasna.
Hasna menggeliat, perlahan membuka matanya, tersenyum. Dengan semangat dia bangkit, memakai jilbab, meraih handuk.

“Mau sekalian mandi?” tanya Inayah.

“Iya dong. Kuliah pagi.”

Selesai mandi, Hasna membuka lemarinya, dalam benak sudah terpikirkan untuk mengenakan gamis favoritnya hari ini. Tapi dia hanya mendapati beberapa potong baju saja.

“Kemana baju-bajuku?” tanya Hasna dalam hati.

“Astaghfirullah.” Ucapnya kemudian. Mimpi semalam terasa begitu nyata, sampai dia merasa bahwa pakaiannya memang sudah kering.

Hasna menoleh ke deretan jemuran, menghela nafas.

“Matahari, terbitlah di Pesantrenku.” Gumamnya.

***

Hari ini Hasna masih mengenakan pakaian seribu tiga. Dia melangkah keluar komplek sambil memandangi pakainnya yang terdesak pakain lain. Di luar pagar pembatas pesantren putra dan putri, tiga santri putra sedang berbincang-bincang, mereka membawa gergaji dan kampak. Hasna dan Nur bertanya-tanya apa yang hendak mereka lakukan.

“Assalamu’alaikum.” Sapa salah seorang santri putra.

“Wa’alaikumsalam.” Jawab Hasna dan Nur.

“Punten. Kami diperintah Abah untuk memangkas pohon mangga ini. sepertinya dahannya mengahalangi kompleks kalian dari cahaya matahari. Bisa beritahu santri yang didalam? Barangkali nanti mereka sedikt terganggu.”

Jika pohon mangga itu dipangkas, maka cahaya matahari tidak terhalang lagi, dan itu berarti besar kemungkinan jemuran akan lebih cepat kering.

“Alhamdulillah, Nur. Matahari benar-benar terbit di pesantren kita.” ujar Hasna girang kepada Nur.

“Maksudnya?” Nur tidak mengerti.

Hasna bergegas masuk, memberitahu kepada teman-temannya. Setelah itu, dengan wajah berseri Hasna berangkat ke kampus bersama Nur.

0 Response to "[Cerpen] Mentari, Terbitlah di Pesantrenku!"

Post a Comment