Indonesia di Medan Perang Peradaban

Sesaat setelah Gorbachev dilantik pada 20 Februari 1985, ia segera mencanangkan kebijakan Glasnot (reformasi) dan Perestroika (restrukturisasi). Kedua kebijakan ini mendapat dukungan penuh dari negara-negara kapitalis barat . Naiknya Gorbachev menandai berakhirnya perang dingin sekaligus menjadi titik dimulainya skenario akhir sejarah mengenai sebuah tatanan internasional berdasarkan penerimaan universal atas model ekonomi kapitalis, tanpa perubahan terhadap cakrawala sejarah manusia selanjutnya.

Pandangan tentang “akhir sejarah” segera mendapatkan kritik tajam oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization. Menurutnya, dunia pasca Perang Dingin adalah sebuah dunia dengan tujuh atau delapan peradaban besar. Kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan kultural membentuk kepentingan-kepentingan, antagonisme-antagonisme, serta asosiasi-asosiasi antarnegara.  Terdapat latar belakang ekonomi, politik dan terkuat “agama” sebagai yang paling berperan dalam konflik antarperadaban. Bahkan oleh karena interpretasi subjektif terhadap agama sehingga memunculkan klaim kebenaran untuk membunuh dan berperang atas nama Tuhan dan kitab suci.

Lebih lanjut, Huntington menuturkan bahwa ikatan sekelompok masyarakat modern semakin ditentukan oleh warisan agama, bahasa, sejarah, dan tradisi yang mereka miliki bersama atau yang disebut sebagai peradaban. Diantaranya ialah peradaban Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Kristen Ortodoks, Hindu, Amerika Latin, dan mungkin “Afrika”.

Perang peradaban mungkin telah dimulai sejak IMF menerapkan kebijakan privatisasi dan dikte ekonomi di era Gorbachev memerintah Rusia. Atau jauh sebelumnya ketika Reagen dan Tatcher mengadopsi gagasan Mont Pelerin Society untuk menjadikan Globalisasi sebagai kendaraan eksekutif bagi Neoliberalisme. Atau dalam dimensi lain, munculnya gerakan Islam Transnasional seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Wahabi-salafi.   Kenyataannya kasus terorisme dan pejuang mujahidin (ISIS) semakin meningkat. Propaganda takfiri, TBC (toghut, bid’ah, khurafat), dan sipilis (sekulerisme, liberalisme, pluralisme) cukup membuat beragam kontroversi di masyarakat dan di internet (gerakan cybernet).

Sementara kita masih menunggu implikasi sosial daripada fanatisme konfusianisme untuk menggenapkan ramalan Huntington. Sebab ia berpendapat bahwa perang peradaban akan terjadi oleh tiga hal; Arogansi Barat, In-toleransi Islam, dan Fanatisme Konfusianisme.

Dalam konteks Indonesia, kemungkinan besar kita sedang berada di negara yang menjadi medan dari perang peradaban. Berikut adalah beberapa sisi yang bisa ditinjau:
1. Pada 1993, presiden suharto telah intens menghimbau untuk meningkatkan kompetensi dan SDM supaya survive dan memenangi pasar bebas, sebab kapitalisme sudah tidak bisa dihadang.
2. Indonesia telah lama menjalin hubungan dan memiliki sejarah bersama ICMI,IGGI, IMF dan World Bank.
3. Telah lama menerapkan kebijakan Privatisasi BUMN, bahkan menjual beberapa aset negara.
4. Islam radikal tumbuh subur di Indonesia pasca reformasi
5. Data intelijen menyebutkan ribuan tentara ISIS berasal dari Indonesia.
6. Pesatnya gerakan muwahidin/ Islam puritan yang diikuti propaganda takfiri, tbc, dan sipilis.
7. Media internet juga masif oleh pemikiran-pemikiran radikal, liberal, humanisme dll.
8. Jika memang layak diklaim, atau setidaknya memiliki kultur sama, etnis tionghoa tengah berkembang pesat di Indonesia.

Secara mengejutkan Intelkam Polri Brigjend. Pol. Djoko Mulyono menyatakan bahwa “Pada 2030, dunia akan mengalami krisis pangan dan energi dan Indonesia akan diburu oleh negara-negara dunia karena kekayaan alamnya”.  Jika memang demikian, akan semakin rumit dan kabur dalam mencari keterkaitan terhadap perang peradaban. Apa sesungguhnya motif dibalik semua itu? Agama atau ekonomi?

Dalam pada itu, Indonesia memiliki NU sebagai benteng NKRI yang telah menegaskan Islam Nusantara sebagai inspirasi peradaban dunia. Islam yang ramah, menghargai perbedaan dan mampu berdialog dengan perkembangan zaman. Sehingga dalam kepungan Ideologi dunia, nusantara tetap eksis dalam perdamaian dan terhindar dari perang saudara atau agama. Setidaknya ini bisa dijadikan modal merebut kembali sumber daya ekonominya. Karena diakui atau tidak, Indonesia masih terjajah kesejahteraannya. Maka perang peradaban pun sudah tidak bisa dicegah. Orang-orang hanya perlu memilih medan dan senjata yang digunakan. Dengan Bom atau melalui pikiran.

Akhirnya, nalar kita kembali terusik, menari bagai kupu-kupu di tengah badai. Argumentasi munculnya perang peradaban mendapat dukungan penting dari fenomena – fenomena empiris yang terjadi di berbagai belahan dunia. Meskipun sedikit disangsikan apakah fenomena tersebut terjadi secara alami atau sengaja diciptakan?
Putra Lintang6623sm@gmail.comsufiramadhan@facebook.com FTIK IAIN PWTPMII KOM W9 IAIN PWTPAC ANSOR PURWOJATI

0 Response to "Indonesia di Medan Perang Peradaban"

Post a Comment