Sekilas Tentang Al - Jabiri

Pada kurun waktu abad 17 masehi, telah bersinar matahari dari barat. Cahayanya bernama renaisance, menyalakan obor kehidupan yang orang-orang sebut sebagai revolusi industri, ilmu pengetahuan dan teknologi. Era ketika heliosentris Copernicus berhasil menganulir doktrin geosentris sebagai simbol kemenangan “akal” atas dominasi gereja. Diikuti oleh penemuan mesin uap oleh James Watt dan berbagai kegemilangan iptek. Sementara itu, di belahan dunia lain, sebuah peradaban mengalami kebalikannya, redup dan rapuh karena kelupaan bahasa untuk mampu berdialog dengan perjalanan masa. Peradaban Islam yang selama berabad-abad menduduki singgasana kejayaan, telah menuruni fase kehancuran dan kemunduran.

Latar belakang inilah yang mendorong para pemikir Islam kontemporer merumuskan kembali  konsep dan strategi kebangkitan Islam, tak terkecuali Muhammad Abid al-Jabiri. Intelektual muslim Maroko ini menawarkan gagasannya melalui kedua buku kritik nalar Arabnya; Takwin al-‘Aql al-‘Arabi (Formasi Nalar Arab) dan Bunyah al’Aql al-‘Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyah li Nudzum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-‘Arabiyah (Struktur Nalar Arab: Studi Kritik Analitik atas Sistem-Sistem Pemikiran dalam Kebudayaan Arab). Dalam blog ini, kita akan mencoba mengintip pemikiran al-Jabiri pada buku pertama itu mulai bab 1 hingga penutup.

Al-Jabiri mendahului tulisannya dengan pertanyaan “apakah mungkin membangun proyek kebangkitan dengan nalar yang tertidur, nalar yang tidak mampu mengevaluasi secara komprehensif terhadap mekanisme, konsep dan pemikiran-pemikirannya?’’. Melihat pertanyaan ini, tentu kita akan berfikir bahwa nalar Arab itu statis dan tidak mampu menjawab tantangan pemikiran kontemporer yang holistik. Sah saja kita menduganya, karena pada kenyataannya, pemikir Maroko ini mengharuskan karya-karya kebudayaan Islam masa lalu mesti dianalisa kembali dan direkonstruksi.

Penulisan sejarah misalnya, tidak menampilkan fase-fase yang berkesinambungan, hanya fakta-fakta sejarah yang saling berdampingan dan tumpang tindih. Sejarah Kufah, Basyrah, Damsyiq, Kairo, Cordova merupakan gambaran ketumpang tindihan dalam penulisan sejarah kultural Arab.  Lebih kepada tempat bukan waktu. Artinya, sejarah ditulis berdasarkan tumpukan bukan sistem.

Adapun kesimpulan dari penelitiannya, bahwa faktor keterpurukan bangsa Arab dan kegagalannya untuk bangkit kembali adalah karena upaya kebangkitan itu menyimpang dari mekanisme kebangkitan yang semestinya. Hal itu terjadi karena para intelektual muslim merumuskan kebangkitan Islam dengan nalar Arab yang statis, nalar yang sama untuk mundur dan hancur. Nalar tersebut telah ada dalam kesadaran kebudayaan Arab ratusan tahun silam. Terbentuk dan tersusun pada era kodifikasi, dimana segala bentuk dan aktivitas kebudayaan Arab selanjutnya berpangkal dari sana.

Oleh karenanya, bila pun kebudayaan Arab mengalami perkembangan, pada aspek terdasar, yaitu “nalar” maka ia tetap tidak berubah (stagnan). Inilah yang menjadi fokus kajian al-Jabiri dan harus dibongkar dalam kebudayaan Arab. Bukan penampakan-penampakannya tetapi perangkat yang membentuknya. Perangkat tersebut adalah “nalar terbentuk” yang mengkonstruk kesadaran terdalam masyarakat (Arab) Islam.  Atau yang akan kita sering sebut dengan “nalar Arab”.